Krisis Budaya Membaca Buku

Perpek Media – Indonesia masih krisis budaya membaca buku. Apalagi dengan era digital seperti sekarang, masyarakat makin gemar hal yang berbau audiovisual dari internet. Keberadaan buku seakan terabaikan.

Budaya adalah kebiasaan, budaya membaca berarti kebiasaan meluangkan waktu untuk membaca. Sutarno dalam buku Manajemen Perpustakaan (2006) memaparkan hal serupa. Menurutnya, budaya baca adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. Seseorang yang mempunyai budaya tersebut berarti telah terbiasa dan berproses dalam waktu yang lama di dalam hidupnya untuk membaca.

Orang yang terbiasa mencerna wacana biasanya otak dan omongannya tidak kosong melompong. Kualitas pribadi seseorang bakal meningkat karenanya. Pikiran akan lebih brilian, bertutur jadi lebih teratur, dan tulisannya semakin berkualitas merupakan sebagian khasiat dari membaca buku. Media cetak tersebut seakan menjadi bagian penting yang tak kalah dengan pangan, sandang, dan papan. Sayangnya, rutinitas baik ini belum mendominasi konsumsi media di kalangan masyarakat Indonesia.

Televisi masih mendominasi media yang paling banyak dikonsumsi masyarakat yaitu sebanyak 96 persen. Disusul dengan Media Luar Ruang (53%), Internet (44%), Radio (37%), Koran (7%), Tabloid dan Majalah (3%). Data tersebut berdasarkan survei Nielsen Consumer Media View yang dilakukan di 11 kota di Indonesia tahun 2017. Media cetak masih menempati posisi akhir, menandakan orang masih enggan membaca teks yang panjang.

Penggunaan internet yang cukup tinggi seiring sejalan dengan menjamurnya penggunaan media sosial. Hal ini juga jadi penyebab rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Jejaring sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, Youtube, dan sebagainya menawarkan jutaan konten video yang dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Jumlah teks yang digunakan pun biasanya terbatas. Konten audiovisual yang memanjakan mata itu lebih mudah diraih ketimbang harus ke luar rumah dan meminjam/membeli buku. Hanya dengan mengetik kata kunci, lihat, dan dengarkan, kita sudah bisa mendapatkan informasi baru.

Angka baca di Indonesia masih sangat rendah. Menurut data dari UNESCO 2016, Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara soal minat baca. Thailand menduduki peringkat 59 sedangkan Botswana menduduki peringkat 61. Negara kita berada di posisi dua terbawah. Miris, bukan? Dengan negara tetangga seperti Singapura (36) dan Malaysia (53) saja kita masih tertinggal jauh.

Berkaca dari kenyataan itu, agaknya tidak mengherankan sebab perilaku belanja buku di Indonesia terbilang minim. Menurut data, rata-rata orang Indonesia hanya membeli 2 judul buku per tahun. Ya, masyarakat modern kita tampaknya amat sibuk dengan urusan digitalnya dibandingkan menyempatkan waktu untuk menyerap informasi dari buku. Masalah ini perlu diatasi oleh segala lapisan masyarakat serta tak lupa mencari solusinya agar bangsa ini makin melek literatur.

Baik individu maupun pemerintah, perlu saling mendukung kultur yang mencerdaskan bangsa tersebut. Mulai dari diri sendiri untuk menumbuhkan kebiasaan membaca. Luangkan waktu sekitar 10-15 menit per hari untuk menyimak berita atau buku. Lebih bagus lagi jika durasinya ditingkatkan jadi 20-30 menit misalnya.

Sarana prasarana membaca umum, seperti taman bacaan dan perpustakaan perlu lebih diperbanyak dan dilengkapi koleksi lekturnya. Unit perpustakaan keliling di tingkat desa maupun kota mesti dilipatgandakan. Harapannya mereka bisa menjangkau tempat-tempat yang minim konsumsi pustaka dan menyebarkan kebiasaan itu.

Mengajarkan anak tentang tradisi literasi dapat berguna menumbuhkan habituasi membaca sejak dini. Bagi para orang tua modern yang suka menyuguhkan anak-anak mereka dengan tayangan televisi dan gawai, segera kurangi hal itu. Ganti dengan kegiatan lain yang dapat mengasah kemampuan berbahasa mereka. Misalnya, menuturkan cerita rakyat melalui buku sebelum tidur.

Selain dapat mengembangkan imajinasi dan perbendaharaan kata sang anak, orang tua turut jadi agen pelestari cerita rakyat Indonesia jua. Dengan memilih buku bacaan anak, konsumsi media mereka akan lebih terkontrol. Bandingkan dengan tayangan televisi atau akses internet yang jangkauannya luas. Bisa saja anak melihat konten yang tidak pantas untuk bocah seusianya.

Persoalan rendahnya budaya baca masih relevan dari dulu hingga saat ini. Sebab, kebiasaan itu dapat memengaruhi kemajuan suatu bangsa. Slogan umum tentang budaya baca salah satunya berbunyi “Buku adalah jendela dunia”. Pikiran kita ibarat ruang gelap yang butuh pandangan baru dan udara segar. Nah, bagaimana mau membangun diri sendiri, apalagi negeri, jika jendelanya belum terbuka? Bagaimana bangsa ini mau maju kalau masih malas baca buku?

 

 

Sumber : saibumi.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *