Maestro Batik Dari Pekalongan, Eliza Charlotta Van Zuylen

Perpek Media – Sampai saat ini hampir sebagian besar masyarakat Pekalongan tidak banyak yang tahu kalau di Pekalongan punya banyak maestro Batik. Akan tetapi, bagi kalangan para ahli kain dunia, namanya masih melegenda. Sejumlah prempuan Indo Eropa seperti Lien Matzelar, A.J.F. Jans, Ny.Simonet, dan dua bersaudara Van Zuylen, mereka telah membuat batik menjadi industro di kawasan kampusng eropa (Heerenstrat, Residen Weeg dan Bugisan).

Sayapun awalnya tidak tahu siapa Eliza dan mengapa batiknya sangat terkenal. Beruntung suatu ketika sahabat saya adalah M.J.A. Nashir mengenalkan saya kepada seorang wanita Belanda – Kanada yang ternyata memiliki garis keturunan dengan Eliza Charlotta Niessen Van Zuylen.

Dari seorang Dr.sana Niesses Ph.D., saya menjadi mengenal lebih dalam siapa sebenarnya sosok Eliza Van Zuylen yang lahir di Fort De Kock atau Bukit Tinggi Sumatera Barat pada tanggal 23 November 1863.

Sandra yang tinggal di Osteebeeg, awalnya juga tidak menyadari bahwa ia masih meiliki garis keturunan kuat dari moyangnya yaitu Niessen yang selalu tersandang pada nama belakangnya. Kepiwaian Sandra yang juga seorangantropolog membuatnya mudah menyelami arsip masa lalu pekalonggan yang hanya ada di negara kincir angin itu.

Menurut Sandra, Kakek Eliza Van Zuylen adalah juga leluhurnya. Ia seorang pria bernama Wijnand Niessen yang lahir pada tahun 1712 di Hundshoven, Belanda. Sedangkan Ayah Eliza bernama Matthias Nicolaas Biessen yang merupakan prajurit KNIL (Tentara Hindia Belanda) yang pernah bertugas di Bali tahun 1849, di Kalimantan tahun 1850, dan Riau (Sumatera) tahun 1858 dan 1859. Dia kemudia naik pangkat menjadi letnan.

Matthias Nicolaas Niessen menikah dengan Elisabeth Christina Anna Geertruida von Ranzow dan memilikmi 4 orang anak yaitu Mathieu Lodewijk Niessen lahir 2 Juli 1860, Christina Johanna Niessen atau akrab dipanggil tina yang lahir pada 26 Agustus 1861, kemudian Eliza lahir pada 23 November 1864, dan August Gustaaf Reineir Niessen yang lahir pada 31 Agustus 1873 di Batavia dan meninggal 29 Desember 1873.

Berdasarkan informasi dari Sandra Niessen keluarga besar dari Ibunya Eliza bermarga von Ranzow yang merupakan kaum bangsawan dari Jerman. Tahun 1711 Christoph Ferdinand Anton von Rantzow lahir di Jerman dan pindah ke Colombo sebagai pimpinan VOC.

Ibu Eliza yang bernama Elizabeth Christina Anna Geertruida von Ranzow merupakan anak perempuan yang lahir dari pasangan dari Loedewijk Carel Zowran von Ranzow (Lahir di Kapal Laut dan meninggal dunia di Batavia) dan Christina Anna Geertruida va Angelbeek (yang lahir di malaka dan meninggal dunia di Batavia).

Bapaknya Lodewijk Carel Zowran adalah anak Ludvig Carl van Ranyzow (lahir di Colombo dan meninggal dunia di Batavia). Istrinya adalah Pohan, seorang wanita dari Palembang. Ini berarti Eliza punya darah Palembang. Adapun keluarga ibunya sudah 4 generasi berada di Asia atau hampir 200 tahun. Eliza Charlotte Niessen mrupakan generasi ke-5 dariVan Ronsow.

Eliza Charlotte Niessen menikah dengan Alphons van Zuylen dari Pekalongan. Sedangkan, Christine kakaknya menikah dengan Cornelis Jan van Zuylen, saudranya Alphonse. Christine lalu pindah ke Pekalongan dengan membuat perusahaan batik. Eliza dan Alphonse awalnya tinggal di Batavia sampai lahir Gustaaf anak keduanya. Eliza atau akrab disapa Lies kemudian memutuskan pindah ke Pekalongan pada tahun 1888 menempati sebuah rumah kecil di Bugisan.

Dalam kesehariannya ia membantu Tina kakaknya membuat Batik. Lama-lama Alphons merasa tidak senang sebab Lies hanya menghabiskan wajtunya untuk menemani kakaknya Tina di Perusahaan batiknya. Kemudian Alphons pada tahun 1890 memberikan sejumlah uang pada Lies untuk membuka usaha batik sendiri dengan mempekerjakan 3 orang pembatik melalui sistem per sekot. Pembatik yang hendak bekerja padanya harus membuktikan keterampilannya dulu, barulah mendapat bayaran.

Lies mengelola perusahaan batiknya sendiri. Sementara itu Alphons kadang disaat waktu luang berusaha membantunhya dalam mengurus administrasi. Dalam mengurus administrasi itu ia dibantu oleh seorang kepala rumah tangga bernama Raden Padmo Soedirno.

Pada tahun 1904 rumahnya di Bugisan dinilai sudah terlalu sempit sehingga kemudian pindah ke Hereenstrat (Jalan Diponegoro). Rumah tersebut memiliki pekarangan belakang yang luas sehingga digunakan untuk tempat membatik dengan ukuran 30 X 80 meter serta sebuah ruangan khusus ukuran 6X20 meter yang diperuntukkan bagi pembatik yang sudah berpengalaman.

Rumah Eliza itu meiliki 3 buah sumur sedangkan didepannya rumahnya merupakan kali kupang atau sekarang disebut dengan Kali Loji. Pada bagian belakang rumahnya juga dibangun beberapa bedeng-bedeng sebagai tempat tinggal maupun sebagai tempat istirahat para pekerja batiknya yang juga berasal dari desa-desa di sekitar Pekalongan.

Hampir setiap pagi, Lies selalu bangun pukul 5 pagi, kemudian sarapan bagi para pekerja batiknya yang datang tepat waktu. Sarapan ala Belanda bagi pembatiknya atau kalangan pribumi pada waktu itu mungkin merupakan suatu kemewahan.

Bagi pembatik yang bekerja di Perusahaan Van Zuylen atau lidah orang pekalongan menyebut Pan Sellen ini memperoleh hak istimewa jika dibanding pembatik di perusahaan batik lainnya. Hal itu dikarenakan mereka mendapatkan layanan kesehatan secara gratis dan sudah termasuk obat dari dokter. Bahkan pembatik yang menjalani proses persalinan akan diberikan pula makanan penambah stamina.

Kalau ada pembatiknya yang meninggal dunia maka Ny.Lies yang membiayai proses pemakamannya. Tak jarang pula Lies sering mengunjungi rumah dari pembatiknya yang sedang sakit atau bahkan melayat pembatiknya yang meninggal dunia.

Saya jadi ingat cerita dari Pak Kurdi, dulu di kampung Pesindon ada salah seorang juru masak Ny Lies yang bernama Sechah. Saat menjelang Belanda meninggalkan Pekalongan pada tahun 1949, Sechah sempat dibelikan sebuah rumah di Pesindon Utara.

Rens Heringa dalam bukunya Fabric of Enchanment, Batik from the North Coast of Java (1996) menyebutkan bahwa setelah tahun 1860, Pekalongan memang sudah menjadi sentra produksi batik Indo-Eropa atau dikenal dengan batik Belanda.

Menurut Heringa, pengusaha batik berdarah Indo-Eropa itu memberikan sumbangan besar dalam perkembangan batik melalui kebiasaan membubuhkan tanda tangan pda setiap lembar batik mereka. Hal itu untuk menunjukkan tiap lembar itu dibuat khusus dengan kesempurnaan yang mengerjakannya.

Pesatnya perkembangan batik pada era itu membuat permintaan batik juga meningkat. Hal ini berimbas pada kebutuhan tenaga batik berpengalaman semakin bertambah. Para pengusaha batik pda waktu itu sudah saling membajak-membajak. Terkadang mereka bersaing untuk mendapatkan pekerja yang memiliki keahlian membatik. Seperti halnya seorang pembatik handal, ia bisa diberikan uang panjar sebesar 25 gulden pada awal masuk kerja. Apabila pembatik tersebut pindah kerja ke tempat baru, maka pemilik perusahaan baru tempatnya bekerja akan melunas hutangnya itu.

Keluarga Lies dan Alphons termasuk yang bahagia dan serba berkecukupan. Mereka memiliki sebuah mobil mewah berwarna hitam. Sebagian anak Lies dan Alphons ada yang sudah menikah atau meneruskan sekolah di Belanda, sedangkan anak-anak perempuan yang belum menikah membantu ibunya di perusahaan betiiknya. Mereka membuat desain-desain buket untuk kemudian ditampilkan wujudnya pada produk batik.

Pada batik Lies, gaya ragam dan komposisi bisa menciptakan gaya khas Pekalongan diantaranya penggunaan motif buket atau bunga-bunga Eropa. Motif-motif itu kemudian dikenal sebagai buketan sehingga dipandang sebagai batik ala pesisiran yang keluar dari pakem motif ala Kraton.

Untuk menghasilkan warna warni bunga pada corak buketan ini, Lies menggunakan zat warna sintetis sehingga warna yang dihasilkan lebih beragam. Sedangkan, proses pewarnaan juga dilakukan dengan cara dicelup dan dicolet untuk efisiensi waktu dalam proses pengerjaan.

Pada tahun 1918, Lies dirundung kesedihan, suaminya Alphons meninggal dunia dalam usia 59 tahun karna sakit. Tepat pada saat Frieda anak perempuan mereka yang paling muda berusia 16 tahun.

Pada tahun 1935, Eliza mulai menggunakan bahan pewarna sintetis pda produk batiknya. Ia sebenarnya sudah lama bereksperimen dengan pewarna sintetis terutama untuk warna merah pada sareung buatannya. Ia juga sering menampilkan warna ungu yang diperoleh dari larutan kimia anilin yang diencerkan dengan air.

Pada perempuan Indo-Eropa lebih memilih motif bunga yang khas Eropa pada setiap msim untuk mewakili setiap tahap dalam kehidupan mereka. Warna bungapun sangat menentukan siapa pemaiknya. Warna putih untuk pengantin, biru untuk perempuan yang belum menikah. Merah menggambarkan cinta sehingga dipakai untuk perempuan yang sudah menikah, sedangkan ungu dianggap mewakili kesederhanaan sehingga diperuntukan khusus bagi janda.

Batik Lies kemudian mendapat persaingan dari para pembatik peranakan Tionghoa yang ada di Pekalongan dan Kedungwuni sebab mereka juga memproduksi batik dengna pewarna sintetis.

Pada suatu ketika anaknya yan kelima yaitu George Van Zuylen terkena imbas krisis ekonomi dan harus kehilangan pekerjaannya di bidang industri gula di Pekalongan. Lalu ia menggantungkan nasibnya pada ibunya. George lalu memulai membantu dengan eksperimen dan membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Ia kemudian memulai proses pewarnaan batiknya menggunakan pewarna sintetis.

Istri Geoger yang bernama ida juga ikut membantu menangani urusan pembukuan serta korespondensi dengan para pelanggannya di luar kota. Saat Lies berusia 72 tahun, seorang anaknya bernama Clamentine atau Tina juga ikut menggantungkan hidupnya padanya setelah suami Tina meninggal pada tahun 1930.

Pada tahun 1937, Ida mulai menggunakan sistem penomoran baru pada produk batik perusahaannya. Sebelumnya nomor produksi hanya dituliskan pda selembar kertas yang kemudian ditempelkan dengan lem pada kainnya.

Dari daftar yang selalu diaktualisasi dapat diketahui secara pola maupun ragam warna yang dimaksudkan apabila ada pelanggan yang memesan kembali dengan menyebut nama salah satu nomor tertentu. Pesanan susulan pundapat dengan cepat diketahui buket maupun ragam warna yang diminta.

Sedangkan, Clementin mengintroduksikan penerapan gambar patron pada kain katun dan tidak lagi menggunakan kertas. Hal itu dikarenakan patron kain lebih tahan lama. Gagasan ini diperoleh dari kawasan Vortstenlanden atau batik kerajaan. Batik kerjanaan biasanya para putri keraton menggambarkan dengan cara membatiknya pada kain katun putih untuk dijual pada perusahaan batik lainnya melalui perantara dari pelayan mereka.

Sebelumnya perusahaan batik peranakan Tionghoa juga meniru buket-buket dari Van Zuylen maka sebaliknya Van Zuylen kemudian meniru pula batik-batik peranakan yang sukses dipasaran. Seperti batik Oey Soe Tjoen pada tahun 1935.

Batik Oey dianggap memiliki taraf kesempurnaan yang tinggi dengan tampilan buketan dan isen-isen. Pola dengan bunga-bunga buket berupa garis-garis sejajar yang terputus-putus, terdiri atas titik-titik halus yang dibubuhkan sangat cermat. Bentuk garis-garis dengan tiap-tiap kelopak berlainan sehingga bunganya berkesan tiga dimensional. Adapun bidang daun-daunan dibubuhkan pola yang sangat halus seperti daun pakis.

Menurut Dekan Fakultas Batik Universitas Pekalongan Zahir Widadi, batik karya Eliza dengan batiknya Oey Soe Tjoen hampir punya kemiripan. Namun, perbedaannya pada jenis bunga dan warna. Batik Eliza cenderung memakai warna biru muda, sedangkan batik Oey dengan warna pastel, pink, dan orange.

Nyonya Lies pernah didatangi salah seorang pelanggannya orang Tionghoa dan menanyakan apakah produknya juga bisa membuat gaya seperti encim. Lies kemudian berembug dengan pembatiknya yang paling senior dan menyatakan kesanggupan untuk pesanan pelanggannya tadi. Ternyata Lies mampu berhasil meniru pada gaya sempurna tetapi tidak menampilkan efek 3 dimensinya.

Masa Pendudukan Jepang

Semua orang Indo-Eropa dimasukkan dalam Kamp Interniran. Akan tetapi, Eliza memang tak dimasukkan ke penjara atau kamp. Pada waktu itu Jepang ingin Eliza bekerja membatik untuk mereka. Lies juga tak menolak ketika Dai Nippon menyita rumahnya untuk keperluan kepolisian Jepang.

Lies kemudian membuat obi atau sabuk pinggang dari kain yang dipakai sewaktu menggunakan pakaian kimono dari bahan katun untuk para wanita Jepang. Selain itu juga pesanan batik pagi/sore dengan gaya berbeda dari produk yang biasa ia buat sebelumnya. Produk kain panjang pada waktu itu dinamakan Jawa Hokokai seperti halnya Perhimpunan Kebaktian Rakyat Jawa yang dibentuk oleh Jepang.

Setelah Jepang menyerah, kemudian timbul revolusi Lies harus dipenjarakan. Padahal waktu itu Lies sedang sakit diabetes dan memerlukan perawatan. Lies akhirnya meninggal 27 Januari 1947 di sebuah biara Fransiskan di daerah Wonopringgo dan kemudian di makamkan di Kerkoff di sebelah makam suaminya, dengan tanpa nisan yang tertulis namanya.

Pasukan Belanda masuk ke Pekalongan dalam agresi militer kedua dan membebaskan para tawanan orang-orang Belanda dan Indo-Eropa. Ternyata rumahnya telah dirampok dan tidak diketahui lagi gambar-gambar patron banyak yang hilang. Kemudian seorang pengusaha Tionghoa bernama Oey King Liem menawarkan uang sebanyak 60 ribu gulden untuk memperoleh hak untuk memakai tanda tangan dari mendiang E.V. Zuylen.

Namun, ahli waris keluarga Eliza menolak dengan keras dan mereka tetap mempertahankan hak penggunaannya dan tidak sudi untuk jatuh ke tangan Oey King Liem itu. Hal ini menjadi penguat dari keberadaan sang maestro buketan Nyonya Eliza Van Zuylen itu dibidang industri batik.

Semasa pendudukan ternyata Oey King Liem memang membuat batik untuk orang Jepang. Ia juga merupakan tetangga yang menempati belakang rumah Eliza, yaitu di Jalan Resident Weeg atau sekarang disebut jalan Progo.

 

Sumber : Dirhamsyah, 2015. Ensiklopedia Tokoh Pekalongan. Pekalongan : Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Pekalongan. kesbangpol-pekalongankota.org

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *