Bersepeda Menuju Madinah

Perpek Media – Kerinduan kepada Allah, kadang diekspresikan beragam. Sebab, mencintai Allah juga berarti mencintai kekasih-kekasih-Nya. Dan, mencintai amalan yang dapat mengantarkan kepada cinta-Nya.

“Saya betul-betul rindu Rasulullah. Meski ke Madinah pakai sepeda, Ustaz” kata Muchlis Abdillah (47 tahun), alias Abah Hulis, semalam di kantorku dengan menyembunyikan tangisnya.

Abah Hulis memutuskan untuk pergi ke Madinah menggunakan sepeda. Awalnya, dia ingin melakukannya sendiri. Namun, Allah memberi hadiah lain. Istri dan ketiga anaknya yang masih kecil ikut serta.

Mereka akan melakukan perjalanan darat menuju Madinah menggunakan sepeda. Dengan modal tekad dan semangat, Abah Hulis menyebut perjalanan ruhaninya sebagai Ziarah Qudsiyah.

Mereka akan mengunjungi pula makam-makam para wali dan sahabat di daerah yang dilaluinya.

“Apa bekalmu sudah siap, Bah? Bukankah ini perjalanan panjang, berat dan berbahaya?” tanyaku.

“Sudah. Aku punya Allah.” jawabnya tegas.

Aku tak sanggup menghentikkan. Aku tak punya hak. Bahkan, tak punya cukup keberanian untuk bertanya tentang bekal lagi. Meski kutahu, dia hanya bermodal tawakal, tanpa kesiapan finansial sama sekali.

Pada beberapa kali pertemuan pengajian Tasawuf Underground di rumahku, saya selalu bertanya tentang kesiapan perjalanan, berkali-kali pula dia menunjukkan kebulatan tekadnya di depanku. Siapalah aku ini, tak mungkin aku sanggup menghentikan keyakinannya kepada Allah. Bagi Abah Hulis, ini sudah merupakan panggilan suci, yang dia sendiri tak sanggup membendungnya.

Abah Hulis yang kukenal adalah seorang pengamal Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya. Dia adalah pengagum guru tercinta Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom) & Kh Zezen ZA Bazul Asyhab. Pengamalan dzikirnya tentu sudah begitu kuat. Dengan kesadaran penuh dia bertekad melakukan perjalanan ini.

Aku bertanya kepada Mirza (16 tahun) yang turut serta dengannya malam itu, “Sudah kamu pikir masak-masak?”

“Sudah” jawabnya tegas.

Lagi-lagi, aku tak sanggup bertanya. Dari sorot mata Mirza seolah berkata, “Ini jalanku. Jalan yang sudah direnungkan masak-masak.”

Jujur kuakui, aku sangat mengagumi keteguhan tekad keluarga ini. Kerinduannya kepada Allah dan Rasululllah mengalahkan apa pun di dunia ini.

“Jangan lupa, Syekh, kasih tahu Sor Baujan di Kuala Lumpur. Saya ingin tahu tempat yang pernah dikunjungi Thariq Abdul Matin dalam novelmu,” kata Abah Hulis.

Aku hanya menjawab dengan tertawa.

Hari ini, tanggal 11 Juli 2018, Abah Hulis dan Mirza memulai perjalanan dari Jakarta menuju Dumai dengan bersepeda. Sementara, istri dan dua anaknya menyusul dari Medan. Di Dumai mereka akan bertemu. Dari sana mereka akan menyeberang ke Melaka, Malaysia.

Sungguh, mentalku tak sebanding dengan mereka. Dari Melaka mereka akan terus ke arah Kedah, Hat Yai, Bangkok, lalu memasuki daerah-daerah di Myanmar, India, Pakistan, Iran, dan Yaman. Dalam hitunganku, perjalanan ini bisa lebih dari 6 bulan ditempuh.

Aku tak bisa memberi mereka bekal materi. Aku hanya bisa berdoa untuk mereka, semoga menjadi perjalanan ruhani yang mencerahkan. Menjadi obat bagi kerinduan spiritual. Menyusuri jalan kesucian yang mempesona lahir dan batin hingga menemukan Al-Haqq; dalam diri dan arah perjalanan.

Semoga menginspirasi dan memercikkan cahaya hikmah bagi yang lain. Saya tunggu catatan tulisan Abah Hulis dan keluarga, dari tempat-tempat persinggahan.

Rihlah (perjalanan) adalah cara para ulama dulu menimba ilmu dan hikmah. Karena itu, catatan perjalanan ini kelak akan dibukukan dan publikasikan melalui tasawuf underground. Dibuat cerita bersambung. Agar bisa menjadi daya gugah ruhani bagi setiap pejalan (salik).

Selamat Jalan Abah Hulis dan keluarga. Moga selamat sampai tujuan. Aamiin.

Penulis : Halim Ambiya

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Bersepeda Menuju Madinah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *