Ajang Silaturahmi dan Sinergitas Antar Lembaga Melalui Pengajian Rutin

Wonosobo, Perpek Media – Pemerintah Kabupaten Wonosobo bekerja sama dengan Kodim dan Polres menyelenggarakan pengajian rutin tiap awal bulan bertempat di Pendopo Bupati, Kamis (10/01/2019).

Pengajian ini ditujukan kepada semua pimpinan dan anggota untuk menambah ilmu serta sekaligus sebagai ajang silaturahmi dan sinergitas antar lembaga, dengan mengundang mubaligh Prof Dr KH Mukhotob Hamzah, MM sekaligus sebagai Rektor Unsiq dengan tema tentang Kiamat.

Hari Kiamat adalah peristiwa di mana alam semesta beserta isinya hancur luluh yang membunuh semua makhluk di dalamnya tanpa terkecuali. Hari kiamat ditandai dengan bunyi terompet sangkakala oleh Malaikan Israfil atas perintah dari Allah SWT.

Setelah semua makhuk yang hidup mati maka Allah SWT akan kembali memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup terompet untuk yang kedua kali guna membangunkan semua orang yang telah mati untuk bangkit kembali mulai dari manusia pertama zaman Nabi Adam hingga manusia yang terakhir saat kiamat tiba untuk melaksanakan hari pembalasan.

Kiamat dibagi dua yaitu Kiamat Sughro dan Kubro. Kiamat Sughro adalah kiamat kecil yang sering terjadi dalam kehidupan manusia yaitu kematian. Setelah mati roh seseorang akan berada di alam barzah atau alam kubur yang merupakan alam antara dunia dan akhirat. Kiamat sughro sudah sering terjadi dan bersifat umum atau biasa terjadi di lingkungan sekitar kita yang merupakan suatu teguran Allah SWT pada manusia yang masih hidup untuk kembali ke jalan yang lurus dengan taubat.

Yang kedua adalah Kiamat Kubro. Kiamat kubro adalah kiamat yang mengakhiri kehidupan di dunia ini karena hancurnya alam semesta beserta isinya. Setelah kiamat besar maka manusia akan menjalani alam setelah alam barzah / alam kubur.

Kiamat kubra akan terjadi satu kali dan itu belum pernah terjadi dengan kejadian yang benar-benar luar biasa di luar bayangan manusia dengan tanda-tanda yang jelas dan pada saat itu segala amal perbuatan tidak akan diterima karena telah tertutup rapat.

KH Mukhotob Hamzah menambahkan saat ini ada terjadi pergeseran orang dalam menimba ilmu. Kalau dahulu orang belajar datang ke guru/ustad sekarang cukup buka HP buka google. Inilah yang harus diwaspadai. Belajarlah pada ahlinya, sebab kebenaran di google tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Senada dengan KH Mukhotob, Dandim 0707/Wonosobo menyampaikan bahwa kiamat kecil bisa diatur dengan cara pola hidup sehat. Karena saat ini di Wonosobo kehidupan sehari – hari masyarakatnya belum hidup sehat. Hal ini ditandai dengan BAB sembarangan yang akhirnya menyebabkan orang mudah sakit. Seperti diare dan Types. Bila ini dibiarkan terus menerus maka secara teori akan memperpendek usia kehidupan manusia. Atau kematian.

Data yang ada di Dinas Kesehatan untuk wilayah Wonosobo masih ada kurang lebih 105 ribu kepala keluarga yang belum mempunyai jamban keluarga. Pemerintah saat ini baru bisa membantu 1000 buah bantuan untuk pembuatan jamban. Jika itu nunggu pemerintah maka dibutukan kurang lebih 100 tahun. Apa mungkin kita harus nunggu sampai 100 tahun agar masyarakat Wonosobo bisa hidup sehat. Itukan tidak mungkin,” ungkapnya.

Untuk itu Letkol Czi Fauzan Fadli, SE mengajak semua bergerak agar bersama sama memerangi musuh yang nyata yaitu masalah kesehatan. Jika bisa dikerjakan bersama – sama sesuai dengan tugasnya masing-masing membuat program jamban maka Dandim optimis ditahun 2019 Wonosobo bisa bebas dari BAB sembarangan.

Yang kedua Dandim mengingatkan kepada kita semua saat ini sudah memasuki masa kampaye dalam rangka pemilu, karena untuk menyelenggarakan itu membutuhkan biaya besar maka keamanan masyarakat harus kita utamakan. Siapa pun yang menjadi presiden itu adalah pemimpin kita. Mari kita dukung. Jangan sampai terjadi perpecahan gara – gara beda pilihan,” pungkasnya. (Pandji-Indonesia)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *