Dr. Ir. Lukmanul Halim, M.Si, Berharap Vlogger & Blogger Jadi Duta Halal LPPOM MUI.

Jakarta, Perpek Media – Komunitas blogger dan vlogger diharapkan bisa menjadi Duta Halal LPPOM MUI untuk memviralkan isue yang benar dan menangkal isue halal yang tidak benar. Demikiaan ditegaskan Direktur LPPOM MUI, Dr. Ir. Lukmanul Halim, M.Si, yang turut menjadi nara sumber Talkshow tentang sertifikasi halal MUI dan produk halal di The Atjeh Connection Sarinah, Jakarta. Jumat (01/03/2019).

Talkshow yang mengambil tema Prosedur Sertifikasi Halal MUI dan Tantangan Industri Halal di Era Digitalisasi 4.0, diisi oleh Anita Amir Faisal (Owner Atjeh Connection), Lia Amalia (Kepala Bidang Sosialisasi dan Promosi Halal LPPOM MUI) dan Lukmanul Hakim (Direktur Pelaksana LPPOM MUI)

Lukmanul Halim, mengatakan UMKM cukup signifikan dalam pergerakan ekonomi. Di saat terjadi krisis ekonomi, para pelaku usaha kecil justru tampil sebagai penopang roda perekonomian. Oleh karena itu peningkatan UMKM dalam ketersediaan pangan, khususnya pangan halal, LPPOM MUI mengambil langkah yang dianggap penting.

Dengan berkolaborasi antara LPPOM MUI, komunitas blogger – vloggrer dan The Atjeh Connection, setidaknya mampu menghalalkan Indonesia dan meng-Indonesiakan halal bahwa halal itu sangat penting bagi kita semua. Dan bayangkan bila umat Islam doa nya tidak terkabul selama 40 hari 40 malam hanya sekali makan. Tetapi tidak sekadar hanya untuk umat Islam, sebab halal itu juga untuk semua manusia.

Lukmanul membeberkan beberapa fakta sebelumnya, ia menceritakan pada tahun 2010 hingga 2013 ada usaha bakso yang kolep karena diterpa isu terkait halal ini. Isue halal ini cukup menghebohkan ibukota dan melumpuhkan pedagang bakso dituding menggunakan daging celeng.

“50 persen pengusaha bakso di Jakarta saat itu kolep atau gulung tikar karena isu bakso babi, bahkan para pengusaha itu mendatangi MUI untuk menjelaskan persoalan tersebut” sebutnya.

Oleh karena itu, ia melihat masyarakat Indonesua sangatlah religius, sehingga terkait tentang halal ini benar-benar harus disosialisasi dan diperkuat,” ujar Lukman.

Saat itu ternyata ada tata niaga yang masuk membanjiri dengan daging-daging celeng ke ibukota. Mereka juga protes, karena yang diharamkan daging babi dan daging celeng tidak diharamkan.

“Ya, sama saja. Saat itu pedagang bakso di beberapa tempat di Jakarta mengalami drop dan turun drastis hanya dalam tempo sehari. Mereka kalang kabut karena tidak ada masyarakat yang mau mengkonsumsi bakso daging celeng,” ujar alumni IPB Bogor ini.

Kalau di luar negeri isue halal itu terjadi sejak kasus burger di Denmark yang tercemar dengan daging kuda antara tahun 2013 – 2014. Sebelumnya di Belanda memang sudah heboh tentang pasta gigi yang halal. Aneh kenapa pasta gigi harus halal. Isue halal itu sudah dimulai di negara Eropa. Kemudian kasus burger di Denmark yang tercemar dengan daging kuda dan burger itu tidak bersertivikat halal kemudian mereka memiliki imej produk yang kwaliti itu belum tentu pyur. Jadi mereka kemudian punya asumsi bahwa halal food is the pyur food .

Ketika halal dijadikan sebuah beryl, itu tidak perlu kita khawatir mau ada restoran dari China, dari Eropa dan lainnya tidak perlu khawatir. Ketika halal sudah menjadi kompetitif, keunggulan bersaing untuk produk-produk lokal, insyaallah dan masyarakatnya diedukasi melalui blogger dan vlogger.

Untuk menyelamatkan industri di Indonesia itu ada dua ; pertama sosialisasikan halal dan buatkan regulasinya sudah selesai. Jadi persaingan itu bagi orang Indonesia sangat memahami betul bahwa orang Indonesia sangat religius dan sangat sensitif dengan isue-isue religius. Dan isue halal itu sangat sensitif.

“Kalau ada isue-isue tentang syariah, maksud saya karena religiusnya orang Indonesia bahwa positifnya Indonesia sangat religius. Maka isue religius sangat berbahaya karena orang Indonesia sangat sensitif, termasuk dalam isue halal. Sudah banyak contoh kasus-kasus perusahaan atau industri yang kolep atau hampir kolep ketika diterpa dengan isue halal.

Maka dari itu untuk isue halal negative, pihaknya minta agar blogger dan vlogger jangan sampai mengangkat isue terlalu besar atau dibesar-besarkan. Tetapi harus dilakukan edukasi terlebih dahulu, pendekatan terhadap restoran dan produk. Karena begitu sensitifnya isue halal di Indonesia, maka ketika muncul kasus pada tahun 1988 ada beberapa kasus, kemudian kasus susu. MSJ, ayam dan issue halal yang menimpa restoran besar.

Ada isue yang benar dan ada isue yang tidak benar. Seperti burger yang mana tersiar isue bahwa sapi yang dipotong dimasukkan langsung utuh ke alat giling termasuk babi hidup. Dalam video itu sapi dan babi hidup-hidup dimasukkan langsung ke alat giling.

Maka LPPOM MUI berharap blogger dan vlogger ini bisa menjadi duta halal LPPOM MUI. Karena menjadi duta halal, maka blogger dan vlogger harus menjalankan tugas yang diamanahkan yakni hanya memviralkan isue-isue yang benar dan mereka akan meluruskan isue-isue yang tidak benar. Sumber informasinya harus realtime dan dibuat jalur komunikasi yang bagus antara blogger dan vlogger apalagi sudah dengan asosiasi tinggal dikordinasikan dengan punggawa LPPOM MUI dan dibahas isuenya seperti apa. Barulah diselesaikan hari itu juga tanpa menunggu besok.

Untuk hal-haal yang urgen, LPPOM MUI sudah terbiasa menyelesaikan masalah tanpa menunggu waktu. Kejadian hari itu harus diselesaikan saat itu juga. Sebab, isue cepat berkembang dan akan berdampak lebih besar kerugian perusahaan pada produksinya. Setelah ada kepastian benar dan tidaknya isue halal tersebut maka MUI segera memberikan klarifikasi.

“Kita mau membela yang benar, karena sebenarnya tidak seperti yang ada pada isue itu. Maka vlogger dan blogger ini akan menjadi pembela-pembela yang benar dan bukan membela yang bayar. Maju tak gentar membela yang benar. Bila tidak, berapa karyawan yang terdampak akibat isue tak benar itu,” tandas Lukmanul.

Oleh sebab itu, Lukmanul menekankan bahwa tugas blogger dan vlogger itu menjadi media sosialisasi dan edukasi halal bagi umat Islam Indonesia.

Lalu bagaimana kebijakan MUI ke depan, diakui masih banyak sekali yang disertivikasi dan banyak pula yang minta disertivikasi. Bukan hanya POM, pangan, obat-obatan dan kosmetika, tetapi ada juga jasa yang diminta disertivikasi, termasuk makanan kucing dan yang lainnya lagi.

Namun begitu, MUI juga orang sains dan tehnologi jadi tahu mana yang penting untuk disertivikasi dan mana yang tidak penting, mana yang perlu dan tidak perlu serta mana yang harus dan mana yang tidak harus untuk disertivikasi. Jadi disertivikasi tergantung dari permintaan. Tetapi yang wajib tentu hanya pangan, obat dan kosmetika. Tapi yang lain-lain tentu tergantung dari konsumennya.

“LPPOM MUI tidak pernah mengada-ada tetapi memang ada, kami memang ada. Jadi perlu diluruskan bahwa kita itu bekerja maju tak gentar membela yang benar. Bahwa setelah membela yang benar lalu ada yang bayar, alhadzulillah,” seloroh Lukmanul disambut tawa tergelak para bloger dan vloger. [mastete/koranpagionline]

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *