Mengenang 116 Thn Pahlawan WR. Soepratman, Lintas Komunitas Seni Lakukan Doa Bersama

Purworejo, Perpek Media – Belasan pegiat komunitas Srawung Budaya Nusantara, seniman lintas komunitas, serta wartawan menggelar doa bersama di Memorial House WR Soepratman di Dusun Trembelang Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Purworejo Senin (18/3) sore.

Kegiatan berlangsung sederhana untuk merawat ingatan bahwa pahlawan nasional WR Soepratman lahir di Purworejo pada tanggal 19 Maret 1903, atau 116 tahun lalu.

Doa bersama dirangkai dengan tabur bunga di lokasi penguburan Plasenta atau ari-ari WR Sopratman serta diskusi seputar penguatan sosok WR Soepratman bagi Kabupaten Purworejo.

Dalam kesempatan itu, mereka juga khidmat menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

“Ini kita lakukan untuk merawat ingatan bahwa tanggal lahir WR Soepratman adalah 19 Maret, bukan 9 Maret seperti yang masih diakui sebagian masyarakat atau di tingkat nasional sebagai hari musik nasional,” kata Catur Heriyanto, pegiat Srawung Budaya Nusantara.

Catur bersama pegiat Komunitas Srawung Budaya lainnya mengaku prihatin dengan masih adanya polemik terkait sejarah tempat dan tanggal lahir WR Soepratman. Padahal, Pengadilan Negeri Purworejo pada 29 Maret 2007 telah menetapkan WR Soepratman lahir di Dusun Trembelang Desa Somongari Kecamatan Kaligesing pada 19 Maret 1903.

Catur menilai selama ini sudah ada upaya masyarakat, khususnya di Desa Somongari untuk mengangkat tanggal lahir itu sesuai sejarah. Terbukti dengan adanya sejumlah even yang digelar setiap tanggal 19 Maret. Namun, belum terlihat greget di tingkat kabupaten secara menyeluruh.

“Kita mengajak dan mendorong agar seluruh elemen masyarakat Purworejo, khususnya pemerintah kabupaten untuk dapat lebih mengangkat sosok WR Soepratman sebagai tokoh asal Kabupaten Purworejo,” tandasnya.

Panut Maryono (55), juru pelihara Memorial House WR Soepratman, menyebut banyak fakta yang mengungkapkan bahwa WR Soepratman lahir di Desa Somongari pada hari Kamis Wage yang menurut penelusuran ahli sejarah saat itu bertanggal 19 Maret, bukan 9 Maret.

“Salah satu saksi yaitu Mbah Atmorejo, sekarang sudah meninggal. Saat disidang di pengadilan negeri kala itu, usianya sudah 100 tahun lebih. Dikatakan bahwa WR Soepratman dilahirkan oleh ibunya, Senen, saat meletus gunung kelud pertama kali hari Kamis dan diberi nama Wage. Setelah dilacak yang paling berdekatan adalah Kamis Wage tanggalnya 19 Maret,” sebutnya.

Bukti lain yang cukup kuat bahwa WR lahir di Dusun Trembelang yakni adanya plasenta atau ari-ari yang dikubur di depan bagian kanan memorial house tersebut. Sampai sekarang, struktur bangunan rumah serta palsenta masih utuh.

“Memang rumah ini pernah direnovasi dan ada kayu-kayu yang diganti, tapi kalau bentuknya masih utuh limasan seperti sekarang ini,” ungkapnya. (Top/Mas/Kp)

Sumber : koranpurworejo.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *