Media Sosial Jadi Medan Perang Pilpres 2019

Perpek Media – Serang-menyerang antar kedua kubu pendukung capres makin memanas. Buzzer politik menyiapkan aminusinya. Cebong-kampret menjadi sasaran penyebaran konten-konten politik. Sayangnya, bukannya saling menonjolkan keunggulan jagoannya, malah cenderung menyebarkan kabar bohong atau hoaks.

Tak jarang narasi menakut-nakuti dijual di media sosial untuk menarik masyarakat yang belum memiliki pilihan. Deretan judul berita berita hoaks silih berganti di media sosial. Sayangnya, banyak yang mengamini kabar bohong tersebut. Di balik banyaknya kabar yang disebarkan oleh cebong-kampret, buzzer-buzzer politik juga berperan penting dalam produksi konten tersebut.

Aksi para buzzer politik dinilai bisa ikut mendengungkan isu-isu panas untuk membesarkan branding tokoh politik yang didukung bahkan untuk menjatuhkan lawan. Menggunakan media sosial sebagai salah satu cara untuk menggiring opini publik. Boleh dibilang, mereka lah ujung tombak tokoh politik mendapatkan suara rakyat. Isu-isu politik tak boleh dilewatkan agar bisa menjadi senjata untuk menyerang lawan.

Sebuah study temuan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, jumlah kabar hoaks yang memenuhi media sosial meningkat sebanyak 61% antara Desember 2018 dan Januari 2019. Dari total 109 hoaks yang beredar Januari lalu, sebanyak 58 buah bertemakan Pilpres 2019. Konten-konten bertema Pilpres 2019 ada 36,20 persen yang membidik paslon 02, Prabowo-Sandiaga Uno. Sementara paslon nomor urut 01 ditimpa oleh fitnah sebanyak 32,75 persen. Selain itu, pemerintah menerima serangan 8 kabar hoaks atau sekitar 13,79 persen.

Dalam buku War in 140 Characters: How Social Media Has Transformed the Nature of Conflict yang ditulis David Patrikarakos, dikatakan bahwa kemampuan media sosial dapat menjadikan orang biasa memiliki kekuatan untuk mengubah arah medan perang fisik dan narasi wacana di sekitarnya.

Media sosial, menurut David, bisa memberikan setiap orang dua kemampuan penting, yaitu: memproduksi konten dan membentuk jaringan hingga skala transnasional. Ini salah satu hal yang menyebabkan maraknya buzzer politik memiliki kekuatan untuk mempengaruhi para pendukung salah satu kubu tertentu. Melalui media sosial juga memungkinkan mempertemukan orang-orang yang mendukung suatu kubu tertentu untuk saling mendukung dan menyerang kubu yang berseberangan.

Sepertinya memang mustahil perang politik di media sosial dihentikan dalam waktu dekat. Tak mungkin pula untuk mengubah pilihan para pendukung setia kedua kubu. Namun kalau kamu masih waras, tak ada salahnya untuk tidak terjerumus dalam konten-konten yang belum jelas kebenarannya. Sebagai generasi yang melek teknologi, tak ada salahnya untuk selalu cek kebenaran berita tersebut sebelum ikut menyebarkan dan membuat orang lain terhasut dengan kabar bohong tersebut. [opini]

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *