Jalurnya Belum layak, Pendakian Gunung Rinjani Batal Dibuka April 2019

Mataram, Perpek Media – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menggelar rapat koordinasi dengan pihak terkait untuk membahas rencana dibukanya kembali pendakian Gunung Rinjani pasca gempa yang melanda lombok pada Agustus 2018 lalu, Rabu (27/03/2019). Berdasarkan hasil rapat tersebut, BTNGR memutuskan untuk membatalkan rencana dan menunda pemberian izin pendakian ke Gunung Rinjani.

Kepala BTNGR, Sudiyono, menerangkan bahwa pembatalan tersebut terkait dengan kondisi jalur pendakian yang belum aman. Selain itu, beberapa fasilitas juga masih perlu dibenahi.

“Hasil rapat kemarin ditunda dulu pembukaannya. Jalurnya belum layak dan masih harus dikaji ulang,” ujar Sudiyono ketika dihubungi Inside Lombok, Kamis (28/03/2019).

Penentuan kelayakan jalur tersebut sendiri menurut Sudiyono mempertimbangkan beberapa faktor. Antara lain kepadatan tanah, kemiringan lereng, kecuraman, dan fasilitas lain secara umum.

Sebelumnya BTNGR telah mengirim tim untuk menyurvei kelayakan empat jalur pendakian menuju Gunung Rinjani. Yaitu jalur Sembalun, Senaru, Aik Berik, dan Timbanuh. BTNGR sendiri optimis dapat membuka pendakian pada awal April. Namun terjadi gempa Magnitudo 4.2 pada Minggu (17/03/2019) yang kemudian mengubah lagi struktur tanah di jalur-jalur pendakian tersebut.

Gempa Magnitudo 4.2 itu sendiri diketahui disebabkan oleh pergerakan sesar lokal yang belum terpetakan di sekitar wilayah Gunung Rinjani. Dimana ketika gempa tersebut terjadi, Tim Survei BTNGR tengah berada di Pelawangan, Rinjani.

Berdasarkan data dari Stasiun Geofisika Mataram sendiri sampai dengan 28 Maret 2019 telah terjadi 98 kali gempa susulan yang disebabkan oleh aktifitas sesar lokal di wilayah Gunung Rinjani tersebut.

Penundaan dibukanya pendakian Gunung Rinjani oleh BTNGR sendiri semata-mata mempertimbangkan keselamatan orang-orang yang ingin mendaki. Ketika dimintai keterangan kapan pastinya pendakian Gunung Rinjani akan dibuka, Sudiyono menerangkan bahwa pihaknya juga belum bisa memastikan.

“Kita tunggu saja hasil survei,” pungkas Sudiyono. []

Sumber : insidelombok.id

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *