Naik Tahta Sultan Hamengku Buwono X, Beksan Golek Menak Ditampilkan

Yogya, Perpek Media – Menandai puncak acara rangkaian jumeneng dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X naik takhta yang ke 30 akan menampilkan Beksan (tari) Golek Menak pada Sabtu (06/04/2019).

Beksan Golek Menak adalah drama tari ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988). Gagasan penciptaan tari ini dicetuskan Sultan setelah menyaksikan pertunjukan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari Kedu pada tahun 1941.

“Apabila dramatari Wayang Wong menceritakan kisah Ramayana dan Mahabharata, dramatari Golek Menak menceritakan kisah-kisah yang diambil dari Serat Menak,” ungkap Sutradara Tari Kanjeng Mas Temenggung (KMT) Suryowaseso.

Dia menjelaskan Serat Menak bersumber dari Hikayat Amir Hamzah yang dibawa oleh pedagang Melayu dan disebarluaskan di wilayah Nusantara. Adapun Nama-nama tokoh yang berasal dari belahan dunia lain tersebut kemudian di adaptasi ke dalam bahasa Jawa, seperti nama Amir Hamzah berubah menjadi Amir Ambyah. Secara garis besar Serat Menak memuat kisah munculnya agama Islam melalui tokoh Amir Ambyah atau Wong Agung Jayengrana, seorang putra Adipati asal Mekkah.

“Makna tari menak sebenarnya mengacu pada wayang kulit jadi maknanya adalah penyebaran agama islam di seluruh wilayah timur tengah kemudian disebarkan dengan cara halus. Intinya penyebaran agama islam,” tutur KMT Suryowaseso kepada para wartawan di Kraton Yogya, Kamis (04/04/19).

Dari informasi yang diperoleh, para pemeran tari golek menek dimainkan oleh kelompok Krido Margowo yang merupakan penari Keraton itu sendiri. Sediitnya, ada 50 penari yang terlibat. “Sejauh ini persiapanya sudah 90 persen, nanti akan ada dua gladi lagi. Sore ini masih gladi kotor, besok Jum’at gladi bersihnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Angger Pribadi Wibowo atau KPH Haryo Notonegoro ikut berperan tarian itu dan berjanji memberi kejutan dalam pementasan. Salah satunya, gerakan akan terlihat seperti wayang golek kayu. “Spesialnya karena ini ditarikan oleh manusia asli. Bukan wayang kayu yang joget, melainkan manusianya,” ucap Kanjeng Noto. [krjogja]

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *