Perjuangan Guru Honorer Di Pedalaman Flores, Gaji Rp. 85.000 / Bulan

Perpek Media – Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, kalimat ini sudah sering kita dengar dan kita tentu tahu alasannya. Namun tak sedikit kasus tentang para guru ini yang membuat kita sedih. Contoh sebuah kasus yang terjadi di Tangerang.

Dilansir dari Tribunnews, seorang guru honorer SDN Pondok Pucung 02 bernama Rusmini sempat menyuarakan dugaan pungli di sekolah tersebut.

Rusmini disebut berhasil membongkar dugaan praktek pungli iuran laboratorium komputer, infokus, dan buku pelajaran yang dibeli secara mandiri.

Namun sedihnya, investigasi yang dilakukan Rusmini ternyata justru membuatnya dipecat dari sekolahannya.

Kisah Rusmini menjadi satu dari kisah pilu yang sering menghampiri para guru honorer di Indonesia.

Salah satunya di pedalaman Flores.

Dikutip dari Kompas.com pada Rabu (10/7/2019), nasib beberapa guru honorer di SMPN 3 Waigete, Flores, NTT punya kisah pilu tersendiri.

Mereka mengabdi di pedalaman Flores yang terisolasi dengan upah hanya Rp85.000 per bulan.

Salah satu guru, Maria Beta Nona Vin mengungkapkan perjuangannya.

“Itu uang Rp 85.000 juga kadang-kadang mandek sampai 3 bulan,” cerita Beti, sapaan akrab guru ini.

“Itu uang kan dari orangtua siswa. Jadi, kita tunggu kapan mereka bayar baru kita terima honor.”

Dirinya menceritakan kalau saat upah tersebut tak terbayar, maka dirinya harus mengandalkan ubi yang ditanamnya sendiri.

Beti memang menanam ubi yang diandalkannya jika tak mampu membeli beras.

Jarak rumah hingga ke sekolahnya pun mencapai 3 kilometer dan Beti menempuhnya dengan berjalan kaki.

Tak hanya itu, dirinya juga harus berjuang terisolasi dari listrik dan telepon.

“Di rumah kami pakai lampu pelita.”

“Kalau malam kerja perangkat pembelajaran, kami andalkan lampu pelita saja.”

“Susah sekali sebenarnya, tetapi karena sudah terbiasa, jadinya nyaman juga.”

“Untuk yang punya hanphone itu harus pergi cas di orang yang ada mesin generator,” tutur Beti.

Sinyal pun hanya bisa didapat bila berjalan kaki sejauh 3 kilometer lagi.

Dengan gaji seadanya, Beti tinggal di rumah sederhana dengan alas tikar belahan bambu.

Meski harus hidup dengan segala keterbatasan, Beti mengaku tetap semangat mengajar di sekolah tersebut.

“Capek sebenarnya, tetapi berpikir, pasti ada hikmah di balik perjuangan ini,” ungkap Beti.

Ia berharap, ke depan pemerintah bisa menyambung jaringan listrik dan telepon ke Desa Watu Diran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, alamat SMPN 3 Waigete.

Pantauan Kompas.com, Beti tinggal di rumah yang sangat sederhana, beratapkan alang-alang, dinding belahan bambu, dan lantai tanah.

Kamar istirahatnya juga sangat sederhana. Hanya beralaskan tikar di atas belahan bambu. Pakayan digantung tanpa lemari. Begitu pula dengan buku-buku.

Alat masak ibu Beti juga masih menggunakan tungku tradisonal dari batu. Untuk memasak, ia menggunakan kayu api yang didapatkan dari kebun.

Ibu Beti juga terkadang menumbuk padi untuk menjadi beras. Di tempat itu memang tidak ada penggiling padi.

Di tengah keterbatasan uang dan fasilitas, serta tidak adanya saluran informasi, Beti tetap bertahan untuk mengabdi di SMPN 3 Waigete, Desa Watu Diran, Kecamatan Waigete, Kabupaten, Sikka, Flores. (Angriawan Cahyo Pawenang/ Nansianus Taris)

(Artikel ini sudah tayang di hot.grid.id dengan judul
“Kisah Pilu Guru Honorer di Pedalaman Flores, Gaji Rp 85.000 Hingga Tak Bisa Kabari Keluarga karena Terisolasi

Sumber : intisari.grid.id

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *