Tumpul ke Atas Tajam ke Bawah

Oleh : Rafida Aulya Rahmi

Perpek Media – Ironi kasus pelecehan seksual yang dialami oleh Ibu Baiq Nuril pun menjadi sorotan Dunia Internasional. Pasalnya Mahkamah Agung (MA) menolak peninjauan kembali (PK) atas Ibu Baiq Nuril, alasannya karena ia susah terbukti menjadi pelaku yang sah.

Awalnya ketika ia mendapatkan telepon dari atasan kerjanya kemudian ia merekam perkataan atasanya melalui telepon genggam yang mengajak untuk berhubungan intim, rekaman itu pun menyebar ke seluruh staff dan media. Padahal, rekaman itu menjadi bukti atas pelecehan seksual yang dilakukan oleh atasanya.

Dalam kasus ini menjadi sorotan dunia atas putusan MA kepada Ibu Baiq Nuril yang sah menjadi pelaku pelanggaran UU ITE didenda 500 juta rupiah dan 6 bulan dipenjara.

Media internasional yang berbasis di Amerika Serikat, seperti Reuters, Washington Post hingga New York Post ramai-ramai memberitakan kasus yang menjerat wanita tersebut. Sumber SINDONews.com

“Indonesia’s top court jails woman who reported workplace sexual harassment,” bunyi judul Reuters dan New York Post. Terjemah judul itu adalah “Pengadilan tertinggi di Indonesia penjarakan wanita yang melaporkan pelecehan seksual di tempat kerja”. Sumber SINDONews.com

Media ternama Inggris, BBC, mengangkat judul; “Indonesian woman jailed for sharing boss’s ‘harassment’ calls”. Terjemah dari judul itu adalah; “Wanita Indonesia dipenjara karena berbagi penggilan ‘pelecehan’ atasan.” Sumber SINDONews.com

Putusan MA tidak dapat diajukan banding akan tetapi tim hukumnya akan mengajukan amnesti kepada Presiden Joko Widodo.

Hakekat keadilan hukum dalam Sistem Demokrasi yang hanya mengabdi kepada kepentingan pemilik kuasa (multi tafsir, standar tak jelas, tumpul ke atas dan tajam ke bawah, menjadi alat menekan yang lemah dan melanggengkan sebelah pihak.

Demokrasi bak srigala yang merongrong mencari santapan empuk sebagai mangsanya, bak lingkaran syaithan setiap menyelesaikan suatu permasalahan tak memuaskan. Namun, berbeda ketika sistem Islam yang diterapkan, keadilan dan kesejahteraan lah sebagai buah dari ketakwaan sang pemimpin sebagai makhluk yang lemah.

Tak layak sebagai makhluk yang lemah namun acuh terhadap perintah Tuhannya, berpaling dari aturanNya. Dalam Islam siapapun yang berbuat kemaksiatan akan mendapatkan sanksi yang adil karena berasaskan Alquran dan sunnah Nabi maka hukum syara’ menjadi rem bagi kehidupannya sebaliknya dalam sistem demokrasi siapapun bebas melakukan tanpa ada rem kehidupan karena kebebasan bertindak sebagai asas dalam demokrasi itu sendiri. Wallahu A’lam. []

Mahasiswi UIN Banten, Fakultas Ushuluddin dan Adab semester 5

Sumber : radarindonesianews.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *