Puluhan Preman Dari Berbagai Daerah, Insyaf Dan Belajar Di Pondok Pesantren

Kebumen, Perpek Media — Preman Pensiun, mungkin kata yang pas disematkan kepada puluhan santri Pondok Pesantren Al –Hasani Jatimalang Jatimulyo Alian, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah.

Ya, para puluhan santri yang berasal dari Kebumen, Brebes, Lampung hingga Palembang itu menginginkan insyaf dari “dunia gelap” dan kembali ke jalan yang benar.

Pandangan miring dari masyarakat terhadap anak jalanan membuat sulit mereka untuk bersosialisasi dengan masyarakat umum.

Di tangan dingin Pengasuh Ponpes Al Hasani Gus Asyhari Muhammad Al Hasani, puluhan anak jalanan yang kerap melakukan penyimpangan seperti mengkonsumsi Miras, Narkoba, dan perilaku kriminal serta penyimpangan lainnya kembali memeluk agama Islam dengan seutuhnya.

Gus Asyhari Muhammad Al Hasani atau yang akrab disapa Gus Hari yang juga ketua forum anak jalanan insyaf mengaji (FAJIM), misinya adalah untuk meminimalisir kejahatan di masyarakat.

Gus Hari melakukan pendekatan kepada santri dari hati ke hati. Ia percaya, semua orang memiliki sisi baik. Melalui metode khusus dan bacaan doa, ia bisa membuat insyaf para anak jalanan.

Sepintas, para anak jalanan yang mengaji di Ponpes Al Hasani, jika diamati, sama dengan santri lainnya. Mereka mengenakan baju Koko, sarung, peci dan mampu mengumandangkan adzan saat sholat 5 waktu.

Namun jika dilihat dari historisnya, mereka adalah anak jalanan yang suka melakukan penyimpangan.

“Siapapun mereka yang ingin mengaji di Ponpes kami, kamu terima seutuhnya. Mereka datang dari mana tidaklah penting. Kami justru merasa senang bisa membimbing dan membuat mereka insyaf,” jelas Gus Hari.

Setiap malam Rabu, para santri mengikuti “Mujahadah Rotibul hadad” untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Selain memberikan ilmu agama, para santri juga dibekali kemampuan berwirausaha seperti beternak dan ketrampilan lainnya.

Selanjutnya salah satu santri Puji Tatto mengatakan telah menemukan kedamaian hidup setelah menimba ilmu agama di Ponpes Al Hasani dan mengikuti program Fajim.

“Saya di sini menemukan kedamaian hidup. Hati saya menjadi tenang, dan saya sekarang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang meresahkan masyarakat. Saat ini saya telah menjalani kehidupan yang lebih baik, yang semula hati saya penuh dengan kegelapan,” jelasnya. (Kun)

*Sumber : pandji-indonesia.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *