Keselamatan Yang Tak Menjadi Budaya Pendakian Kita

Perpek Media – Mendaki gunung adalah aktivitas berbahaya. Tidak ada benar atau salah di gunung, tidak ada adil atau tidak adil, satu-satunya hal yang pasti adalah gunung merupakan tempat berbahaya. Kata-kata itu diucapkan oleh Reinhold Messner, seorang petualangan kawakan asal Italia. Sangat berasalan Messner menyebut gunung sebagai tempat yang berbahaya. Sebab, tak ada seorang pun yang dapat menolong kecuali diri sendiri. Definisi liar benar-benar bekerja di gunung.

Tingkat bahaya beraktivitas di gunung dapat dikurangi dengan melakukan persiapan yang maksimal. Tak cukup bekal pengetahuan dan kemampuan, tetapi juga diperlukan sikap yang dapat menuntun ke arah keselamatan. Hal-hal tadi tidak bisa hanya dimiliki sebagian, tetapi harus secara utuh dimiliki.

Sayangnya, di Indonesia pemahaman ini tidak ada. Beraktivitas di gunung dianggap sebagai sesuatu yang mudah. Tidak ada pemahaman tentang bahaya dan pentingnya keselamatan. Jika ingin melihat contoh nyatanya, datanglah ke pos-pos pendakian gunung populer di Indonesia. Misalnya Semeru, Gede, atau Rinjani. Di sana akan banyak ditemui calon pendaki yang terkesan seadanya ketika hendak mendaki gunung. Mulai dari yang hanya memakai sandal, hingga yang hanya memakan mie instan di gunung. Pemikiran untuk mendapatkan petualangan dengan persiapan a la kadarnya nampak masih menjangkiti mereka ini.

Bahkan, kelompok pendaki gunung yang menjamur di kampus dan sekolah pun tidak menjamin seseorang dapat mendaki dengan selamat. Penyebabnya tentu mudah ditebak adalah model pendidikannya. Masih banyak kelompok pendaki gunung yang dalam pendidikannya hanya menekankan pada aspek kekerasan dengan tujuan agar tangguh saat di alam, tetapi melupakan aspek keselamatan. Keselamatan belum menjadi budaya di dalam pendakian kita.

Safety Can Be Fun

Paradigma baru harus usung. Petualangan tidak bisa didapatkan dengan persiapan ala kadarnya. Definisi petualangan adalah posisi setara antara kemampuan dan tantangan. Kemampuan berarti kapasitas pengetahuan, keahlian, dan sikap yang saling melengkapi. Jika kemampuan lebih rendah daripada tantangan, maka bukan petualangan yang didapat, tetapi sebuah bencana. Kesadaran tentang bahayanya aktivitas mendaki gunung harus ditumbuhkan. Sehingga, tidak sembarang hal bisa dilakukan. Mendaki gunung tidak sama dengan aktivitas lain, mendaki gunung bukan hanya sebuah pariwisata, tetapi sebuah aktivitas minat khusus. Yang berarti memerlukan hal-hal khusus.

Keselamatan adalah paradigma baru yang harus ditanamkan. Hanya dengan keselamatan kita dapat menikmati perjalanan. Tujuan besarnya adalah untuk mendapatkan kesenangan. Sebab pada intinya mendaki gunung adalah tentang mendapatkan kebahagiaan. Maka, sewajarnya kebahagiaan itu diciptakan. Caranya adalah dengan memperhatikan keselamatan. Ujungnya, keselamatan akan membawa kita pada kebahagiaan. Mendaki gunung dengan selamat akan membawa kita pada kebahagiaan. Keselamatan harus jadi budaya. Safety can be fun. []

*Sumber : IG@Saisai6577

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *