Tradisi Turun Menurun, Warga Salakan Gunungan Bersih Deso Menggelar Wayang Kulit

Wonogiri, Perpek Media – Bersih Desa atau Rosulan sebagai tradisi turun temurun. Adalah perwujudan dari kebudayaan itu sendiri adalah berupa benda-benda yang diciptakan manusia sebagai makhluk yang berbudaya berupa pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi-organisasi social, religi/agama, seni dan lain-lain.

Adalah warga Dusun Salakan, Kelurahan Gunungan, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah sejak dulu menggelar tradisi Bersih Deso atau Rosulan. Tahun 2019 ini, Bersih Deso menggelar Wayang Kulit semalam suntuk, menghadirkan Dalang Ki Dikin dari Pedan, Klaten, Jawa Tengah dengan Lakon Wahyu Kamulyan, pada Selasa Pahing, 20 Agustus 2019.

Seperti yang disampaikan oleh H.Kamid selaku tokoh Dusun Salakan mengatakan bahwa,”Tujuan Bersih Deso Warga Dusun Salakan ini adalah untuk membantu warga dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Jadi Kebudayaan bisa didapat dari mana saja, baik dalam pelajaran di sekolah maupun dari lingkungan sosial. Di era modern ini, orang lebih pintar dengan kecanggihan alat digital yaitu HP. Dan kita semua tahu, orang biasanya banyak belajar dari apa yang ia lihat sehari-hari, mereka punya kebiasaan yang umumnya sama dengan orang-orang di sekitarnya. Kebudayaan itu secara tidak di sengaja muncul dalam masyarakat dan di setujui secara tidak langsung oleh sebuah masyarakat kita, “ jelas H. Kamid kepada Lapan6online.com, Selasa malam (20/08/2019).

Tampak hadir dalam acara tersebut Widi Hastuti, Kepala Desa Gunungan sebagai wujud kebersamaan dengan warga masyarakat Kelurahan Gunungan.

Budaya “Rasulan”.”Rasulan” ini pada dasarnya budaya/tradisi ini adalah sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah pada tahun itu.

Kemudian juga agar panen tahun depan tidak berkurang dan daerah itu supaya terhindar dari musibah. Aneh mungkin bagi orang yang tidak tahu. Namun masih ada masyarakat kita yang meyakini nya sebagai upacara adat. Masyarakat mensyukurinya dengan cara memasak nasi dan lauk-pauknya dalam jumlah yang besar kemudian dibawa ke balai desa untuk di do’akan kemudian dimakan bersama dan sisanya dibagikan kepada seluruh warga.

Kemudian pada malam harinya di adakan pagelaran wayang kulit.Kebiasaan ini juga tidak jelas bagaimana asal-usulnya,namun sampai saat ini masih terus dilakukan oleh sebagian besar masyarakatnya. Ada orang-orang tua yang mungkin tahu seluk beluk “rasulan” tapi ada juga yang hanya ikut-ikutan karena orangtuanya juga melakukan hal seperti itu atau mungkin hanya karena “umum sanak” atau biar sama dengan warga kampung yang lain. Hal ini terjadi karena tradisi “rasulan”ini sudah dilakukan sejak dulu.

Perlu diketahu bahwa, tradisi Bersih Deso atau Rosulan mempunyai 2 makna yaitu, pertama sebagai gerakan kebersihan yang dikerjakan oleh masyarakat setempat secara bergotong- royong, kedua sebagai persembahan terhadap para nabi, danyang, serta ibu pertiwi yang telah memberikan hasil panenan dari apa yang telah ditanam di sawah ladangnya. Upacara tradisi bersih desa itu merupakan upacara intensifikasi yaitu suatu upacara yang menandai keadaan krisis dalam kehidupan kelompok.

Kegiatan upacara bersih desa tidak lepas dari interaksi sosial masyarakat karena interaksi sosial melibatkan banyak orang sehingga mempunyai hubungan timbal balik antara pelaku dan upacara yang akan dilakukan serta unsur-unsur yang mendukungnya.

Oleh karena itu interaksi sosial menjadi faktor terpenting dalam hubungan dengan orang lain dan menyangkut keberhasilan suatu upacara, hal ini menunjukkan adanya gotong-royong dan kerja sama. Adat dan budaya manusia tidak dapat dipungkiri peranannya sebagai ritual atau kepercayaan masyarakat. (Mbak Ning)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *