Jalaludin Rumi, Sosok Sufi Dan Penyair Islam

Perpek Media – Pecinta puisi dan syair islami tidak akan asing dengan tokoh sufi yang sangat terkenal di zamannya hingga sekarang ini. Ialah Maulana Jalaluddin Rumi yang lebih sering disebut Rumi. Merupakan penyair dan filsuf yang lahir di Balkh, Afganistan 30 September 1207 Masehi.

Dikutib Covesia.com dari berbagai sumber, Selasa (20/8/2019), Rumi yang kala itu berusia 5 tahun pernah diramal oleh Fariduddin Attar, tokoh sufi. Ia mengatakan bahwa kelak Rumi akan menjadi tokoh sipiritual besar. Rumi hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Rumi pernah tinggal di Iran, Baghdad, Makkah, Konya dan akhirnya menetap di Turki.

Kepenyairan Rumi dimulai ketika ia berumur 48 tahun. Sebelumnya ia menjadi seorang ulama yang memiliki murid mencapai 4000 orang. Adalah syeikh Syamsuddin Tabriz seorang sufi pengelana yang mengubah kebiasaannya 40 tahun terakhir.

Rumi begitu asik berdiskusi dan berdebat dengan Tabriz hingga ia melalaikan kebiasaannya mengajar. Anaknya pun heran dengan tingkah ayahnya yang dulunya seorang ulama besar seolah-olah telah menjadi anak yang tunduk pada gurunya. Bahkan, Rumi betah berhari-hari menetap dengan Tabriz. Namun, murid Rumi merasa ditinggalkan akhirnya melakukan protes. Mereka menuduh Tabrizlah penyebab semua itu terjadi.

Tabriz memutuskan untuk pergi dari kota tersebut demi keselamatan dirinya. Namun, Rumi seolah seperti remaja yang ditinggalkan kekasihnya, ia dirundung duka dan tidak bersedia lagi mengajar. Mendengar hal itu Tabris mengirimi Rumi surat dan menegurnya. Rumi pun kembali seperti sedia kala.

Rumi meminta gurunya itu untuk kembali ke Konya dan ia menjamin keselamatan guru tersebut. Tabris pun memenuhi, namun lagi-lagi Rumi lalai dengan rutinitasnya mengajar hingga muridnya kembali protes. Tabris pun meninggalkan Konya secara diam-daim dan tak pernah kembali lagi ke Konya.

Emosi Rumi semakin terbentuk akibat kerinduan pada gurunya sehingga ia menjadi penyair tak tertandingi. Ia tulis syair untun menyanjung gurunya tersebut yang dihimpun dengan judul Divan-i Syams-i Tabriz. Tak lupa ia membukukan nasehat dan wejangan gurunya yang dikenal dengan nama Maqalat-i Syam-i Tabriz.

15 tahun terakhir masa hidupnya ditemani sahabatnya, Hisamuddin Hasan bin Muhammad Rumi berhasil menghimpun syair yang diberi nama Masnavi-i. Karya Rumi lainnya seperti, Ruba’iyyat, Fiihi Maa fiihi, dan Maktubat. Rumi dengan sahabatnya mengembangkan tarekat Maulawiyah atau jalaliyah. Di negeri Barat biasa disebut The Whirling Dervishe (Para Darwisy yang berputar-putar). Rumi meninggal saat ia berusia 68 tahun karena sakit keras. `

Penulis: Laila Marni/Covesia

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *