Etika Harimau

Oleh: Azhar

Perpek Media – BUMI terdiri dari banyak kehidupan. Semuanya berjalan dalam hubungan yang kompleks dan saling bergantung. Semuanya butuh keseimbangan untuk tumbuh. Untuk mempertahankan keturunan.

Ini tidak hanya berlaku di dunia manusia. Satwa liar juga butuh sebuah sistem yang seimbang. Dalam kitab suci, yang hanya ditujukan kepada manusia, Allah menyatakan banyak hal tentang pentingnya peran manusia menjaga irama harmoni alam. Alam, manusia, hewan, dan tumbuhan semua saling berkaitan. Saling mengikat dan membutuhkan.

Tentu saja peran ini berada di tangan manusia sebagai khalifah. Pemimpin di muka bumi. Amanah ini pernah disampaikan kepada makhluk lain, namun mereka tak berani mengemban karena sadar bahwa tugas ini teramat berat untuk dijalankan. “Maka, (amanah) ini dipikul oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al Ahzab: 72).

Lantas, saat seekor harimau memakan manusia di perkampungan, ini dianggap sebagai sebuah ancaman. Padahal, dengan akal pikiran yang diberikan kepada manusia, seharusnya manusia dapat memahami bahwa hal ini didorong oleh ketidakseimbangan.

Walaupun harimau itu binatang buas, dan bisa menerkam manusia, manusia bukan objek terkaman harimau. Bahkan dengan label sebagai predator puncak yang mengontrol populasi hewan di hutan, harimau memiliki etika.

Harimau memiliki batasan dalam bertindak. Satu di antaranya adalah dengan tidak menjadikan manusia sebagai santapan. Harimau memahami dan memiliki norma tersendiri; siapa atau apa yang boleh atau tidak boleh dimakan. Harimau hanya memangsa kambing hutan, rusa dan hewan lain. Bukan sebaliknya. Saat harimau masuk ke perkampungan dan menerkam ternak manusia, itu hanya karena habitat dan pasokan makan mereka diganggu.

Manusia harusnya menyadari bahwa hak untuk marah dan bertahan hidup bukan hanya milik mereka. Harimau bisa marah jika habitat dan mangsa menghilang. Rangkaian penyerangan terhadap manusia atau ternak mereka hanyalah berdampak dari konflik harimau dan manusia. Saat terjadi gangguan, maka akan terjadi respons. Ada stimulus ada respons.

Inilah semua adalah hal yang sangat sederhana. Sebuah hubungan sebab- akibat. Binatang punya etika. Manusia punya akal dan nafsu. Malaikat mempunyai akal tanpa diberikan nafsu. Binatang hanya memiliki nafsu tanpa akal. Namun harimau tetap berpegang pada aturan alam. Harimau mengikuti naluri alamiah. Hal ini, dalam dunia manusia, disebut fitrah.

Harimau adalah hewan penting bagi manusia yang hidup dalam bentang alam yang sama. Syahdan, pada suatu kejadian , di India terjadinya wabah kijang dan rusa. Ini menjadi masalah di India. Meningkatnya jumlah bintang tersebut disebabkan karena ketiadaan harimau yang seharusnya memangsa satwa-satwa tersebut.

Inyiak

Di beberapa daerah di Sumatera Barat, sering muncul babi hutan yang mengganggu dan merusak tanaman warga. Untuk mengatasinya, masyarakat memburu babi hutan. Mereka menggunakan anjing sebagai pemandu. Kegiatan ini melibatkan banyak orang di suatu komunitas atau kampung.

Sayang, dalam sekali perburuan, babi yang berhasil diburu hanya satu ekor. Padahal dalam tiga bulan, babi melahirkan hingga 12 ekor. Aktivitas berburu ini pun hanya bisa dilakukan seminggu sekali. Jelas upaya ini tak lebih seperti menabur bijan ke tasik.

Di Aceh, beberapa petani dan pemilik kebun juga mengalami hal yang sama. Bahkan banyak di antara mereka memagari areal sawah atau perkebunannya dengan kawat berlistrik. Semua itu dilakukan karena mereka tak mampu mengatasi babi hutan yang memorak-porandakan tanaman mereka.

Padahal, “tugas” mengontrol populasi babi hutan ini dibebankan ke pundak harimau. Bantuan harimau ini tak pernah disadari dan dipahami secara sungguh-sungguh oleh manusia; kita.

Sebagai manusia, kita harusnya bersikap layaknya manusia. Menjaga alam ini lewat akal dan hati. Saat ada orang yang menghancurkan alam dan membunuh harimau, tentu kita berhak menanyakan apakah orang tersebut manusia.

Mereka yang bertanggung jawab atas keberadaan harimau Sumatera saat ini yang diperkirakan hanya berkisar 604 ekor. Padahal, harimau adalah “penduduk asli” hutan-hutan yang terbentang dari Aceh hingga Lampung. Harimau adalah lambang kekuatan orang Sumatera.

Dalam budaya Minangkabau, harimau menjadi simbol yang digunakan dan dipakai dalam berbagai entitas. Dalam budaya pencak silat, misalnya, nama harimau disematkan sebagai simbol keperkasaan. Harimau Kuraji, Harimau Pasaman, Harimau Solok dan banyak lagi. Ini adalah apresiasi budaya Minangkabau terhadap harimau Sumatera. Bahkan Kabupaten Agam, salah satu kabupaten di Sumatera Barat, memakai simbol harimau sebagai lambang daerah.

Masyarakat Minangkabau menyebut harimau dengan inyiak. Ini merupakan sebuah bentuk penghormatan. Orang minang tidak mungkin membunuh harimau. Orang Minang sangat menghargai harimau Sumatera yang merupakan wujud sosial budaya Minangkabau.

* Penulis adalah pengamat satwa liar Indonesia dan alumni Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan TGK Chik Pantee Kulu Darusalam.

(sumber : ajnn.net)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *