Masalah Ketika Kecanduan Belanja

Perpek Media – Bombardir iklan online, cetak dan media memperkuat mentalitas berbelanja kebanyakan orang. Baik gadget terbaru, pakaian baru, atau bahkan makanan membuat banyak orang merasakan keinginan berbelanja secara royal dan berulang-ulang. Jika keinginan untuk berbelanja menjadi tidak terkendali dan hal tersebut terus-menerus dilakukan sampai menghabiskan uang di luar kemampuan seseorang, tandanya orang tersebut sedang mengalami kecanduan berbelanja atau compulsive shopping / compulsive buying disorder. Orang yang mengalami kecanduan berbelanja sering disebut shopaholic.

Istilah shopaholic yang sering digunakan untuk bercanda adalah kondisi serius yang sering diabaikan. Kecanduan berbelanja dapat dikatakan sama merusaknya seperti perjudian dan alkoholisme. Menurut The Oaks at La Paloma, Pusat Pengobatan Residensi di Memphis, Amerika Serikat, seperti bentuk kecanduan lainnya, compulsive shopping adalah penyakit. Lebih lanjut, orang dengan kecanduan belanja dimungkinkan mengalami masalah kesehatan mental.

Seorang shopaholic dimungkinkan mengalami pasang surut dalam kecanduan mereka. Keinginan berbelanja biasanya akan meningkat saat orang tersebut depresi, sedih, atau marah. Hal lain yang dapat meningkatkan keinginan berbelanja adalah belanja liburan. Banyaknya diskon saat hari libur dan hari perayaan seperti valentine, christmas, ataupun libur lebaran dapat meningkatkan keinginan berbelanja.

Terlebih lagi saat ini, kemampuan membeli lebih banyak serta secara diam-diam dan cepat telah didukung oleh perbelanjaan online yang memudahkan berbelanja di tengah malam, selama jam istirahat, ataupun ditengah kenyamanan sofa. Perbelanjaan online dapat membuat penggunanya tahan berjam-jam untuk terus melihat dan mencari barang-barang dengan diskon tinggi. Keadaan ini bisa mengganggu keadaan finansial dan bisa sulit dikendalikan.

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Robert La Rose, ahli telekomunikasi yang berasal dari Department of Telecommunication Michigan State University, USA, kemudahan-kemudahan itu meningkatkan resiko penggemar belanja online menderita compulsive buying disorder dibandingkan dengan penggemar belanja “tradisional”.

Dari segi gender, wanita memiliki tendensi untuk mengalami compulsive shopping lebih besar daripada pria. Sedangkan dibandingkan usia tua, ternyata usia 18-39 tahun dinilai rentan mengalami compulsive shopping. Lebih tepatnya, berkembang pada masa akhir remaja dan awal usia 20 tahun-an. Usia muda tersebut dinilai menjadi masa dimana orang-orang tidak merasa cemas untuk menghamburkan uang dan biasanya usia ini memiliki kontrol diri yang rendah (pijarpsikologi.org, 6/7/2017).

Beberapa tanda seseorang mengalami kecanduan dan harus diperhatikan, antara lain adalah tindakan berbelanja yang menyebabkan perasaan euforia, keinginan untuk membeli yang tinggi dan harus dipenuhi, merasa kesal dan kecewa apabila keinginan untuk membeli tidak terpenuhi, barang yang dibeli saat berbelanja sering kali tidak perlu, dan sering pergi berbelanja dengan tujuan membeli hanya beberapa barang dan akhirnya membeli lebih banyak dari yang diinginkan.

Mengungkap akar masalah pada orang yang mengalami compulsive shopping akan membantu menurunkan risiko itu datang kembali di kemudian hari. Selain itu, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk meredakan kecanduan, seperti bantuan orang terdekat untuk mengambil alih kendali atas pengeluaran dana, konseling dan terapi psikologis agar dapat belajar mengontrol dorongan dan mengenali pemicu kecanduan belanja, atau dari pecandu sendiri dapat belajar tentang mengatur keuangan dan belajar mengadopsi gaya belanja yang sehat.

Proses pengobatan yang direncanakan harus dilakukan dengan hati-hati dan melibatkan keluarga, teman, atau orang lain yang memiliki hubungan dengan orang-orang yang mengalami kecanduan. Konseling dan bantuan dari orang terdekat yang benar-benar memahami dapat membuat sebuah perubahan. (Akuratnews)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *