Komunitas Seniman Muslim Gelar Sipnosis Dan Konferensi Pers Pementasan Theater ‘Perampok’ Karya Ws. Rendra

Jakarta, Perpek Media – Komunitas Seniman Muslim menggelar acara Sipnosis dan Konferensi Pers Pementasan Theater Perampok karya Ws Rendra, bertempat di Sena cafe & spsce, Bintaro utama 3a no 9a. Senin 16/12/19.

Komunitas Seniman Muslim

Merupakan Wadah Seniman Muslim yang dibentuk hari Ahad, 21 Juli 2019 untuk menciptakan karya berdasarkan nilai-nilai Islami demi kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Seni Islam sebuah entitas yang alamiah dan natural bagi manusia yang mengiku’a‘ fitrah, fokus pada nilai kehidupan yang didesain Allah. Karena Allah sendiri menyatakan diri Allah Maha Indah menyukai keindahan, dan Maha Pencipta. Sudah jelas track seni lslam.

Selain itu, mempunyai misi untuk Meningkatkan karya-karya Seniman Muslim, agar semakin berperan di tingkat dunia dan juga Mengejawantahkan nilai-nilai seni islami oleh Komunitas Seniman Muslim, guna mempererat antar komunitas seniman muslim dalam bentuk sosial empowermen culture, empowermentsend environmental concern.

Program Pementasan Teater

Keindahan adalah realitas kehidupan keseharian yang terlihat pada kehidupan, alam, manusia dan realitas sosial budaya, yang mendorong seni lahir dari kehidupan manusia sebagai ekspresi dan representasi dari keindahan yang terkoneksi pada rasa, jiwa, emosi, pengetahuan dan pengalaman dari manusia. Sebagai manusia yang mempunyai sejarah kehidupan sebagai realitas dan ideal dari keimanan dan ketaqwaan pada Allah.

Pertujukan seni yang berjudul “Perampok” yang menggambarkan realitas dan dilihat sebagai idealisasi, bahwa persoalan sosial, bukan dilihat pada gejala sosial tapi pada masalah nilai yang mengalami pergeseran.

Jadi maksud dan tujuan pertunjukan seni bukan masalah gejala sosial dan bentuk keindahan yang diformalkan menjadi seni. Tapi pertunjukan seni melihat ada sebuah Dergeseran nilai dari realitas sosial, yang dilihat dari sejarah budaya Jawa. Pementasan Teeter berjudul Perampok, karya W.S. Rendra dan akan disutradarai oleh Zak Sorga.

DlAM-DIAM KITA TELAH DIRAMPOK

Oleh: Zak Sorga

Kesenian akan menjadi menggairahkan jika seniman-seniman yang terlibat datang ke medan pergumulan dengan menawarkan ide-ide baru dan terlibat dalam kehidupan nyata dltengah masyarakat, sehingga kesenian tidak menjadi menara gading Begitulah cita-cita KSM (Komunitas Seniman Muslim).

Naskah PERAMPOK Karya WS Rendra ini adalah naskah yang kuat dalam mosofi yang ingin dssampaikan karena Perampok disini bukanlah perampokan biasa, ini adalah perampokan nilai. perampokan ideologi. Suatu keadaan yang kini menjadi kegelisahan massal bagi masyarakat yang akhirnya lahirlah peristiwa 212 yang mendunia itu.

Seorang Legowo yang berjiwa muda, karena tidak ada pintu untuk bertemu dengan Suttan Agung (Penguasa Mataram) dengan caranya sendiri ingin mengembalikan nilai-nilai tersebut pada tempatnya. Dia membuat ontran-ontran yang menggegerkan.

Sunan Giri pun tak tinggal diam, tak hanya tindakan Legowo yang dia kritisi, tapi jauh sebelumnya adalah Kebijakan Sultan Agung yang dia luruskan karena Sultan Agung telah bersekongkol dengan Orang Asing untuk mengelola negeri ini.

Dalam hidup ini, banyak orang yang tidak menyadari,bahwa bahwa sebenarnya yang bisa di rampokitu bukan hanya harta benda dan emas berloan,nilai -nilai akhlak (aturan moral ) yang lama tertanam di tengah masyarakat pun bisa di rampok. Ideologi, Falsafah hidup dan Undang- undang dasar pun bisa dirampok dan diganti dengan undang-undang baru yang menguntungkan sekelompok golongan, tanpa rakyat menyadarinya.

WS Rendra, penulis Naskah Perampok ini mengatakan “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Oleh karenanya pertunjukan ini bagi kami (KSM) adalah pelaksanaan kata-kata dari kepedulian kesenimanan kami.

Dan kami lebih senang mengatakan naskah Perampok ini adalah karya WS Rendra. bukan terjemahan The Robber karya JF. Schiller karena secara utuh falsafar} hidup, konflik, dramatik dan karakter tokoh-tokohnya adalah ciptaan Rendra. Semua dibangun dengan sangat membumi untuk Indonesia.

Kekuasaan selalu dikelilingi oleh kecemburuan, fitnah, intrik dan ambisi pribadi. Itulah yang melingkupi Raden Legowo, ketika dia mendapatkan mandat sebagai penerus yang menggantikan almarhum ayahnya menjadi Adipati Lumajang.

Saat itu Raden Legowo pun pergi menghadap Sultan Agung, Raja Mataram di Kotagede (Yogjakarta) untuk meminta restu (persetujuan).

Belum juga Raden Legowo bertemu dengan Sultan Agung, fitnah segera merebak, Raden Legowo dituduh satu pemikiran dengan Sunan Giri (gurunya) menentang kebijakan Sultan Agung yang bekerjasama dengan orang-orang kulit putih (penjajah) yang datang ke Tanah Jawa ini.

Raden Legowo lalu diburu, dia dituduh akan memberontak dan mendongkel kekuasaan Sultan Agung.

Maka bersama pengawalnya Raden Legowo pun masuk hutan untuk menghindari bentrokan. Karena kehabisan bekal untuk menyambung hidup Raden Legowo melakukan perampokan khusus pada para cukong tuan tanah dan lintah darat yang kaya raya yang memperbudak para petani. Hasil rampokan itu selain dimakan, sebagian besar dia bagi-bagikan ke rakyat miskin.

Upaya ini banyak mendapatkan simpati masyarakat sehingga para pengikutnya pun semakin percaya diri. Mereka kasak-kusuk berusaha mempengaruhi Raden Legowo agar memperluas pengaruhnya dan menggalang kekuatan yang lebih besar lagi untuk kemudian betuI-betul melawan Sultan Agung dan kemudian menjadi Raja Jawa. Ambisi itu Raden Legowo tolak, dia hanya ingin keadilan dan menjadi seorang Adipati yang adil.

Sementara itu, diam-diam, di Kadipaten Lumajang Raden Sudradjat (adik R. Legowo) untuk merebut kekuasaan sebagai Adipati Lumajang, dengan sangat licik, melakukan pembunuhan karakter dengan memfitnah bahwa Raden Legowo adalah seorang Perampok Bengis, pemerkosa, penjudi dan pemabuk yang menjijikan.

Perebutan kekuasaan dua saudara kandung itu pun tak bisa dielakkan.

Tim Produksi Pementasan

Penasehat : Ayu Basir Nurdin, SH, MH, M.Kn.
Pimpinan Produksi : Hj Puspasari Dewi, SH, M.Kn
Sutradara : ZAK SORGA
Asisten Sutradara : Andi Biru Laut
Sekretaris : Dessy Indah Nathalia,S.Sn
Bendahara : Metty Sulistyowati, S.Sn
Marketing : Yaya Said, S.Sn
Tiketing : Ganiyu Rijal
Stage Manager : Eppy P, Lala, Revie
Penata Artistik : Dedy Trandy
Penata Costum : El Tono
Make up : Umar Al Qadri
Penata Cahaya : Aziz Daying
Penata Musik : R. Agung
Multimedia & Dok : Human Afief
Audioman : Sujud Setiyadi,S.Sn
Perlengkapan : R.Sigit Wicaksono
Konsumsi : Siti Maisaro

Pemain Drama Teater ” PERAMPOK”

Nyai Adipati : Ayu Basir Nurdin, SH, MH, M.Kn
Raden Legowo : Nur Said Saputra
Raden Sudrajat : Sapto Wibowo
Roro Kumolo : Baiq Ayu Sintiya
Raden Sumbogo: Des Badal
Sentanu : Dwi Cahyadi
Rasmolo : H. Fadillah Kanvas
Samyur : Septiadi
Gombreh : Budhi Sade
Kukuh Santosa : Suroso
Rondo Dadap : Siti Artati
Mbok Wagirah : Efi Senyum
Gender : Andy Biru Laut
Penembang : Paman Moel
Sinden : Cucun Nurjanah
Pesilat : Opik Setiawan, Muhammad Abdul Aziz, Dheo Chris, Nandi Ruliansyah, Darto Wiguna, Muhammad Irham Ade Fitriyadi, Syarif Muhammad Kautsar, Muhammad Sya’ban, Dicky Pratama Setiawan,Yulia, Deril Maharani, Yara Sabila

Video Terkait :

(vocnews/mnrn)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *