Terseret Arus Deras Banjir Brebes, Anak Lelaki Selamat Tersangkut Pohon

Brebes, Perpek Media – Kisah dramatis dialami lima orang yang masih satu keluarga saat bencana banjir dengan ketinggian 2 meter merendam Bojongsari Losari, Brebes, Jawa Tengah, Kamis, 22 Februari 2018 lalu. Dua di antaranya meninggal dunia karena terseret derasnya arus banjir saat itu.

Sebelum peristiwa nahas terjadi, pada Kamis malam, sekitar pukul 21.00 WIB, Ani (33), dua anak, dan kedua orangtuanya berencana mengungsi karena ketinggian banjir sekitar 1 meter sudah masuk ke dalam rumah.

Tak sempat membawa pakaian ataupun kendaraan, mereka bersiap untuk mengungsi dengan cara berjalan kaki menerjang banjir sejauh 1.5 kilometer hingga ke titik posko darurat. Mereka juga tak punya pilihan lain selain berjalan kaki karena perahu karet minim, meski malam itu sedang hujan lebat dan listrik padam.
Ani saat itu berjalan di belakang sambil menggandeng anaknya, Erianto (12) dan ibundanya Muthmainah (55). Sedangkan, suami Muthmainah berjalan paling depan untuk bertugas mencari jalan dan memastikan tak ada selokan, sambil menggendong cucu keduanya yang masih berusia 2,5 tahun.

Nahas, arus banjir yang deras menerjangnya dan membuat Ani yang sedang menggandeng Muthmainah dan putranya terbawa arus. Suami Mutmainah tak bisa berbuat banyak saat tiga anggota keluarganya terseret arus.

“Baru berjalan sekitar 100 meter, saya, ibu, dan nenek terseret banjir. Saat itu sudah saling pegangan, tapi tangannya nggak kuat dan terlepas,” ucap Erianto, Senin (26/2/2018)

Nenek dan ibu Erianto ditemukan tewas tenggelam. Hanya Erianto berhasil selamat setelah tersangkut di pohon.

“Saya juga terseret arus banjir, mau tolong ibu tapi jauh sekali. Nenek saya juga berteriak. Saya selamat karena tersangkut di pohon dekat kandang ayam,” kata dia.

Jasad Mutmainah pertama kali ditemukan berada di bawah kandang ayam. Kemudian jasad Ani baru ditemukan tiga hari berselang, yakni pada Minggu, 25 Februari 2018, sekitar pukul 06.00 WIB di persawahan atau berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya.

Sementara, suami korban Mutmainah, Toriah (57) menyebut keluarganya termasuk warga yang terakhir mengungsi. “Tetangga sudah pada mengungsi, makanya saya langsung bawa keluarga,” ucap Toriah.

Malam itu, air mengalir dengan deras, istri dan anak perempuannya menghilang, sementara ia berusaha mencari, namun gagal.

“Ya sudah nasib berkata lain. Saya sudah berusaha namun Allah SWT yang menentukan. Keluarga sudah ikhlas,” jelasnya.

Banjir yang merendam belasan ribu rumah warga di 14 desa itu akibat tanggul Sungai Cisanggarung yang berada di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat jebol di dua titik sepanjang 30 meter dan 20 meter.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei menegaskan, penanganan darurat jebolnya tanggul Kali Cisanggarung bisa rampung dalam waktu sepekan.

Ia menyebut akan mendatangkan alat berat dan bahan material lainnya secara cepat dengan melibatkan seluruh kekuatan yang dimilikinya agar tidak terjadi bencana banjir susulan.

“Perbaikan tanggul darurat di sembilan titik yang jebol, saya harap secepatnya bisa ditangani dalam waktu tujuh hari bisa selesai,” kata Willem.

Menurutnya, alat berat sudah didatangkan dari Cirebon, sementara karung serta tanah atau pasir buat menutup bisa dibeli di Cikesik, Cirebon. “Sudah harus kita kerjakan juga, tidak tunggu waktu,” ujarnya

Dalam penanganan bencana banjir dan longsor di Brebes, Willem memaparkan bahwa yang paling utama adalah penyelematan dan pencarian. Penyelamatan korban banjir dilakukan dengan mengevakuasi warga.

“Untuk longsor, masih ada 13 korban yang belum ditemukan maka harus dilakukan pencarian maksimal,” ucapnya lagi.

Bencana, lanjutnya, juga harus ditangani bukan diratapi. Untuk itu, BNPB berusaha memenuhi perlengkapan logistik seperti makanan, suplai air bersih, dan pelayanan kesehatan.

Ia juga segera mensuplai air bersih, alat pembersih, ember, karbol, sapu lidi dan lainnya sehingga masyarakat bisa segera membersihkan rumahnya. Sementara, persediaan obat-obatan juga cukup untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat, terutama dalam masa inkubasi selama lima hari.

Willem mengimbau agar seluruh masyarakat dan jajaran terkait untuk terus waspada, tetap siaga dengan harus mengamati kondisi air dan cuaca. Bila hujan sudah lebat, masyarakat harus segera dievakuasi mengingat tanggul belum jadi.

Begitupun di tempat longsor. Masyarakat dilarang mendekati daerah berbahaya. “Saya sudah menginstruksikan agar dipasang tanda-tanda daaerah rawan longsor, sehingga bila terjadi longsor susulan tidak memakan korban,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Brebes Idza Priyanti menjelaskan, Pemkab Brebes telah menetapkan tanggap darurat bencana banjir dan longsor di Brebes mulai 22 Februari sampai 7 Maret 2018.

Ia mengajak kepada masyarakat Brebes untuk bersabar dan menerima cobaan ini dengan tabah dan tawakal. “Allah SWT tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan manusia, semoga kita bisa mengambil hikmah dan selalu dalam kesabaran dan ketakwaan,” ucapnya.

 

Sumber : liputan6.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *