Sejarah Kalender Dan Perayaan Tahun Baru Masehi

Perpek Media – Kalender yang dipakai hingga saat ini disebut kalender Gregorian. Kalender Gregorius atau Kalender Gregorian adalah kalender yang sekarang paling banyak dipakai di Dunia Barat. Ini merupakan modifikasi Kalender Julius.

Yang pertama kali mengusulkannya ialah Dr. Aloysius Lilius dari Napoli-Italia, dan disetujui oleh Paus Gregorius XIII, pada tanggal 24 Februari 1582.

Sejarahnya tidak terlepas dari sejarah Romawi Kuno. Kalender Masehi adalah kalender yang mulai digunakan oleh umat Kristen awal. Mereka berusaha menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun permulaan (tahun 1).

Model penanggalan Gregorian sejatinya adalah penyempurnaan dari kalender Julian yang telah lebih dahulu dipakai. Keduanya sama-sama menggunakan perhitungan pergerakan matahari yang menggunakan kelahiran Yesus sebagai penanda dimulainya tahun pertama.

Patokan itu umumnya memakai singkatan dalam bahasa latin Anno Domini (AD), Before Christ (BC), Masehi (M). Atau penyebutan lain yang dianggap lebih netral dari sisi religius: Common Era (CE).

Jika sistemnya berdasar pada hal yang sama, mengapa harus diganti? Alasan pembentukan kalender Gregorian dapat dilacak dan erat kaitannya dengan penyesuaian kembali jatuhnya Hari Paskah di musim semi oleh Paus Gregorius XVIII.
Catatan National Geographic terkait sejarah penanggalan ini menyebut kala itu mayoritas Eropa masih menggunakan penanggalan Julian yang diperkenalkan oleh Julio Cesar pada 46 SM dengan perhitungan satu tahun adalah 365,25 hari atau 365 hari dan 6 jam.

Akibatnya, ada penambahan hari setiap beberapa tahun untuk mengakumulasi perbedaan 11 menit 14 detik karena perputaran bumi terhadap matahari hanya berlangsung selama 365 hari 5 jam 48 menit dan 46 detik.

Lama-lama, datangnya musim semi di Roma tak bersamaan lagi dengan perayaan Hari Paskah karena perbedaan perhitungan tersebut. Maka, Paus Gregorius XVIII di masa kepemimpinannya memperbaiki penanggalan Julian dengan meluncurkan sistem penanggalan Gregorian yang masih berdasar pada perhitungan Masehi dan nama-nama bulan yang sama.

Kisahnya, adalah Aloysius Lilius, seorang astronom dan dokter dari Ciro yang saat ini masuk dalam bagian negara Italia telah melayangkan proposal penanggalan. Setelah ia meninggal dunia, pekerjaannya dilanjutkan dan disempurnakan oleh ahli matematika dan astronom Christopher Clavius asal Jerman.

Hasilnya kemudian menjadi dasar reformasi kalender Gregorian dari tahun 1528, seperti dijelaskan August Ziggelar SJ dalam The Papal Bull of 1582 Promulgating A Reform of The Calendar.

The Papal Bull atau Inter Gravissimas yang memuat maklumat tersebut resmi dikeluarkan pada 24 Februari 1582. Paus memerintahkan para rohaniawan Katolik juga seluruh jajaran tertinggi Gereja Katolik mengadopsi sistem kalender baru tersebut.

Laporan Matt Rosenberg pada situs Geography About menyatakan bawa kabar perubahan kalender ini disebarluaskan di seluruh daratan Eropa. Tapi hanya beberapa negara siap dan bersedia untuk mengubah kalender baru di tahun 1582, yakni Italia, Luksemburg, Portugal, Spanyol, dan Perancis.

Negara-negara yang kemudian ikut bergabung dengan penanggalan Gregorian adalah Katolik Roma di Jerman, Belgia, dan Belanda pada 1584, lalu Hungaria pada 1587. Denmark dan Gereja Protestan Jerman menyusul pada 1704. Inggris dan berbagai daerah koloninya pada 1752, Swedia 1753. Di Asia, Jepang juga pada akhirnya mengadopsi penanggalan Gregorian pada 1873 sebagai bagian dari Westernisasi Meiji.

Pada 1875, Mesir juga menerapkan penanggalan Gregorian. Albania, Bulgaria, Estonia, Latvia, Lithuania, Rumania, dan Turki menyesuaikan antara 1912 hingga 1917. Uni Soviet pada 1919, Yunani pada 1928. Cina yang notabene memiliki penanggalan sendiri telah mengganti kalendernya ke Gregorian pada tahun 1949.

Awal tahun Masehi merujuk kepada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa Al-Masih karena itu kalender ini dinamakan menurut Yesus atau Masihiyah. Istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut.

Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat selama abad ke-8.

Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa , tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

Penghitungan kalender ini dimulai oleh seorang biarawan bernama Dionysius Exiguus (atau “Denis Pendek”) dan mula-mula dipergunakan untuk menghitung tanggal Paskah (Computus) berdasarkan tahun pendirian Roma.

Bulan Januari (bulannya Janus) juga ditetapkan setelah Desember dikarenakan Desember adalah pusat Winter Soltice, yaitu hari-hari dimana kaum Pagan penyembah Matahari merayakan ritual mereka saat musim dingin.

Kaum Pagan, atau dalam bahasa kita disebut kaum kafir penyembah berhala, hingga kini biasa memasukkan budaya mereka ke dalam budaya kaum lainnya, sehingga terkadang tanpa sadar kita mengikuti mereka.

Sumber :
– dari berbagai sumber
– netralnews.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *