Pusat Pemerintahan Yang Kini Jadi Museum Sejarah Jakarta

Perpek Media – Museum Sejarah Jakarta yang berlokasi di J1 Taman Fatahilah Nomor 1 Jakarta Barat merupakan salah satu dari sejumlah bangunan cagar budaya di Jakarta yang keberadaannya perlu dilestarikan. Bangunan bergaya Barok Klasik itu berada di kawasan yang kini diberinama Kota Tua.

Lokasinya yang terletak di Jl Taman Fatahilah membuat museum ini oleh masyarakat Jakarta lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahilah. Padahal, nama sebenarnya dari museum ini adalah Museum Sejarah Jakarta. Nama ini diberikan ketika Gubernur Jakarta (kala itu) Ali Sadikin meresmikan gedung tersebut sebagai Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974. Sesuai namanya, Museum Sejarah Jakarta menyajikan aneka koleksi tentang perjalanan panjang sejarah kota Jakarta yang dimulai dari masa Prasejarah hingga kemerdekaan.

Luas areal seluruhnya 13.588 m2, dan bangunan yang berada di atasnya dilindungi oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Keputusan Mendikbud No. 128/M/1988 dan Keputusan Gebernur KDKI Jakarta No. 475 Tahun 1993).

Sejarah Gedung

Sebelum resmi difungsikan sebagai museum pada 30 Maret 1974, gedung ini dahulunya adalah Balaikota (Stadhuis). Selama 215 tahun (1710 – 1925), Belanda menjadikan gedung ini sebagai Balaikota sekaligus pusat pemerintahannya di Batavia (sebutan untuk Jakarta pada masa silam)

Dari catatan sejaralı yang ada, pembangunan gedung Stadhuis dilakukan sebanyak tiga kali pada kurun waktu yang tidak bersamaan. Pembangunan pertama dilakukan oleh Jan Pieterszoon Coen (Gubernur Jenderal VOC. yang memerintah di Batavia 1618 – 1629) pada 1620. Pembangunan gedung ini terkait dengan ambisi Coon yang ingin menjadikan Batavia sebagai pusat perdagangan sekaligus pemerintahan VOC (Vereenigde Oostindsche Compagnie/Kongsi Dagang Belanda) di kawasan Hindia Timur (Oostindsche) guna menyaingi Macao di Cina yang kala itu dikuasai kongsi dagang Inggris.

Gedung yang dibangun Coen itu berada di sebelah Timur Kali Ciliwung, tidak jauh dari jembatan jungkat (sekarang jembatan jungkat Kota Intan). Gedung ini hanya bertahan selama enam tahun dan diganti dengan Balai Kota Kedua (1627-1707), yang dibangun pada sisi selatan halaman utama Kata Batavia, di lokasi sekarang ini.

Balai Kota kedua pada awalnya kemungkinan hanya satu lantai dengan atap datar, tetapi kemudian beberapa kali direnovasi dan diperbesar. Pada akhirnya gedung ini tidak cocok lagi dan dianggap tidak pantas untuk kota yang begitu termasyhur seperti Batavia.

Apalagi, pasukan Mataram pimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo (raja Mataram Yogyakarta), menyerang Batavia pada 1628 dan 1629. Pada penyerangan yang kedua itu, pasukan Sultan Agung berhasil membakar gedung Stadhuis tersebut. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah fondasi yang sudah ada, tetapi menaikkan Lantai sekitar 2 kaki (56 cm).

Menurut suatu laporan, 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan Timur. Selanjutnya Gebernur Jenderal Joan van Hoorn, pada tanggal 25 Januari 1707, mulai membangun gedung baru, Peletakan batu pertama dilakukan oleh putri Gebernur Jenderal Joan van Hoorn, yang bernama Petrolina Willhelmina van Hoorn.

Adapun rancangan bangunan dikerjakan oleh kepala tukang VOC, W.J van de Velde, dan dibangun di bawah pimpinan kepala tukang Kayu J.F. Kemmer. Stadhuis yang cukup besar dan megah itu pembangunannya baru selesai pada masa pemerintahan Gebernur Jenderal Abraham van Riebeeck dan diresmikan pada 10 Juli 1710. Stadhuis tak hanya berfungsi sebagai kantor pemerintahan (balaikota) saja.

Gedung ini juga difungsikan untuk aneka urusan seperti Kantor Dewan Urusan Perkawinan, Panitia Kesejahteraan anak-anak yatim piatu, Kantor Balai Harta (Jawatan Pegadaian), Dewan Kotapraja (College van Scheepenen) Dewan Pengadilan (Raad van Justitie) dan lain-lain.

Gedung ini lebih banyak berperan dalam pemerintahan (Balaikota) dan kantor pengadilan. Karena itu, sejak 1649, gedung ini dilengkapi dengan sel atau ag penjara.

Ruang penjara di sini digunakan bagi mereka yang tengah menunggu keputusan (vonis) dari majelis hakim pengadilan. Ruang penjara itu berada di lantai dasar bangunan utama bagian belakang.

Sejarah Singkat Gedung Stadhuis:

  • 1707-1710 : Gedung dibangun
  • 1710-1925 : Balai Kota Batavia
  • 1925-1942 : Kantor Pemerintahan Provinsi Jawa Barat
  • 1942-1945 : Kantor Pengumpulan
    Logistik Dai Nipon
  • 1945-1952: Kantor Pemerintahan
    Provinsi Jawa Barat
  • 1952-1968 : Markas Komando Militer Kota (KMK) I, yang kemudian menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat
  • 1968 : Gedung diserahkan ke
    PEMDA DKI Jakarta
  • 30 Maret 1974 : Diresmikan menjadi
    Museum Sejarah Jakarta
    oleh Gebernur Ali Sadikin

*Sumber: Buku Panduan Museum Sejarah Jakarta

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *