Pesan Moral Tari Cokek Yang Harus Selalu Di Ingat Dan Diamalkan

Jakarta, Perpek Media – Tari Cokek adalah salah satu tari tradisional Betawi yang sudah ditarikan sejak awal abad ke-20. Kata Cokek artinya artis atau penyanyi yang sering juga dipanggil dengan sebutan anak wayang. Untuk menambah daya pikat pertunjukan Cokek, maka mulailah ada upaya ibing (joged).

Karena daya pikat cokek itulah, maka gerak ibing yang dilakukan penyanyi cokek disebut Tari Cokek. Tata busana Tari Cokek tidak dibuat secara khusus, sehingga kesederhanaan menjadi sangat menonjol. Umumnya, para penari Cokek hanya menggunakan kebaya panjang dengan kain batik atau celana panjang. Tarian ini biasanya dipentaskan saat acara resepsi perkawinan, dan semacamnya.

Pada umumnya, lagu-lagu Gambang Kromong dapat mengiringi Tari Cokek. Tetapi secara pakem hanya beberapa lagu yang dijadikan sebagai lagu pengiring Tari Cokek, antara lain lagu: Gelatik Nguk-Nguk, Cente Manis Berdiri, dan Stambul Jalan.

Pola gerak Tari Cokek sebenarnya tidak terlalu rumit, karena tari ini difungsikan sebagai tari pergaulan, dimana penari akan menyelendangkan kain cukin kepada penonton yang dipilihnya, biasanya penonton laki-laki. Penonton yang diselendangkan cukin itu, tidak menolak ajakan penari Cokek. Pada saat menari bersama itulah biasanya penonton memberikan uang tips yang disebut sawer.

Tari Cokek mempunyai pesan moral amat luhur yang harus senantiasa diingat dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya diungkapkan bagaimana manusia memelihara kehormatan tubuhnya. Dengan mengingat itu, maka manusia tidak terjerumus pada pergaulan yang merusak diri, rumah tangga dan lingkungannya.

Sumber: setubabakanbetawi.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *