Benarkah Pendidikan Tinggi Mampu Memberi Kesejahteraan Perempuan?

Oleh: Nurul Annisa

Jakarta, Perpek Media – Bagi perempuan, mengenyam pendidikan tinggi di universitas dianggap sebagai  sebuah kemewahan, terutama pendidikan jenjang S2 dan S3. Patriarki dan ekonomi menjadi alasan besar sulitnya perempuan untuk melanjutkan pendidikan. Kedua alasan tadi sering kali ditemukan di Indonesia.

Sebagaimana dilansir tirto.id menuliskan ada kisah salah seorang wanita yang berasal dari Jawa Tengah yang pada mulanya ingin dinikahkan ketika ia berusia 13 tahun oleh kedua orangtuanya karena alasan ekonomi dan membantu keluarga. Namun perempuan ini tidak mengikuti kemauan orangtuanya lantaran ia ingin melanjutkan pendidikannya dan meraih cita-citanya.

Waktu demi waktu dilaluinya hingga akhirnya ia dapat membuktikan kepada kedua orangtuanya dengan prestasi yang terus ia dapatkan ketika mengenyam pendidikan tinggi dan dapat membahagiakan serta tidak membebankan kedua orangtuanya selama ia menempuh pendidikan tersebut.

Luar biasa perjuangan yang harus dilalui oleh seorang perempuan untuk mengenyam dan melanjutkan pendidikannya di era kapitalisme saat ini, sehingga tentu banyak bermunculan slogan-slogan dan teriakan lantang tentang emansipasi perempuan yang mereka namakan kesetaraan gender dengan tujuan agar perempuan pun mendapatkan hak pendidikan yang sama dan berupaya untuk menghilangkan konsep patriarti di tengah masyarakat.

Tidak hanya itu, tujuan mereka juga agar kekerasan terhadap perempuan berkurang sejalan tingkat pendidikan yang diperoleh perempuan.

Menurut Psikolog Pendidikan Reky Martha, seperti dikutip cnni pendidikan dapat menjadi peluang perempuan menyejahterakan hidupnya. Dengan pendidikan yang tinggi, perempuan dapat memberikan ilmu bagi dirinya dan orang sekitar. Perempuan juga dapat menaikkan derajat hidupnya.

Meskipun terdapat kemajuan dalam pendidikan selama 25 tahun terakhir, kekerasan terhadap wanita dan anak perempuan masih banyak terjadi di dunia.

Menurut sebuah laporan yang dirilis  Unicep, Komisi Status Perempuan, Rabu (4/3/2020) memaparkan,  jumlah anak perempuan yang putus sekolah turun 79 juta orang dalam dua dekade terakhir, dan dalam satu dekade terakhir anak perempuan memiliki kemungkinan lebih besar untuk melanjutkan ke sekolah menengah dibanding anak laki-laki.

Data yang dipaparkan oleh pihak PBB mengungkapkan bahwa pendidikan yang diperoleh perempuan sudah mulai membaik dengan gaungan kesetaraan gender yang mereka jadikan sebagai solusi. Akan tetapi tidak berbanding lurus dengan kekerasan yang didapatkan oleh perempuan.

Dikutip dari situs yang sama mengemukakan bahwa pada 2016, 70 % korban perdagangan orang yang terdeteksi secara global adalah wanita dan anak perempuan, sebagian besar untuk tujuan eksploitasi seksual. Selain itu, 1 dari setiap 20 anak perempuan berusia 15-19 tahun, atau sekitar 13 juta anak perempuan, mengalami pemerkosaan dalam kehidupan mereka, salah satu bentuk pelecehan seksual paling kejam yang dapat dialami wanita dan anak perempuan, papar laporan itu.

Disamping tingkat pendidikan yang didapatkan perempuan membaik dan persentase angka putus sekolah menurun, persentase kekerasan terhadap perempuan justeru besar.

Apa yang digaungkan terbukti tidak dapat menyelesaikan persoalan yang dialami oleh perempuan khususnya seperti kekerasan, ekonomi dan lain sebagainya. Meskipun mereka sudah memiliki pendidikan yang cukup bahkan tinggi.

Dituliskan pada jurnal Psychology of Women Quarterly tersebut, dari meta-analisis 71 studi, dinyatakan sebesar 58% perempuan di ranah akademis pernah mengalami pelecehan di tempat kerja. Angka ini lebih tinggi dibanding pelecehan di sektor privat atau organisasi pemerintah (nonmiliter).

Islam Memuliakan Perempuan

Islam pun sejatinya tidak pernah menyempitkan ruang gerak perempuan dan tidak pernah menghilangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Bahkan di dalam Islam, seorang perempuan itu dikatakan sebagai madrasatul uula atau sekolah pertama bagi anak-anaknya dan tentunya juga bagi orang-orang di sekitar mereka.

Seorang perempuan tidak hanya mendidik anak pasca kelahiran, bahkan selama anak masih di kandungan pun seorang wanita sudah menjadi pendidik bagi anaknya. Apa yang didengar, dibaca dan dilakukan oleh ibu yang mengandung akan amat sangat berpengaruh pada apa yang diserap oleh anaknya, ketika masih di kandungan dan juga akan mempengaruhi kualitas tumbuh kembang anak itu pula.

Luar biasa istimewa dan “keramat”nya seorang perempuan, karena di dalam Islam pun mengatakan bahwa seorang ibu atau perempuan itu adalah pencetak peradaban, sehingga berpendidikan menjadi hal yang seharusnya ia dapatkan.

Meski perempuan memiliki kewajiban untuk mengurus anak dan suami kala hidup berkeluarga, hal itu tidak dapat dijadikan penghalang bagi perempuan menggapai pendidikan setinggi-tingginya.

Islam merupakan fitrah sehingga setiap pengajaran di dalam Islam tidak pernah salah dan bertentangan terhadap fitrah manusia itu sendiri. Sebab Islam berasal dari pencipta manusia yang tahu betul tentang seperti apa seharusnya pemenuhan terhadap hak dan kewajiban setiap makhluknya, manusia, lelaki maupun perempuan.

Tentang pendidikan sebagaimana yang telah dipaparkan di atas Islam tidak pernah melarang bahkan menganjurkan untuk seorang perempuan mendapatkan pendidikan. Tidak hanya itu, Islam pun secara sistem global memberikan jaminan pendidikan kepada setiap warga negaranya, tanpa membedakan gender, lelaki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan jaminan ini.

Dalam hal penanganan kekerasan yang selama ini dialami oleh kaum perempuan Islam juga memiliki solusinya. Di dalam Islam kehidupan sosial atau ijtima’ diatur sedemikian rupa, mengatur hubungan antara lelaki dan perempuan yang mana aturan ini sejalan dengan fitrahnya sebagai manusia.

Bahkan segala jenis rangsangan dari luar seperti tontonan atau apaun di luar sana yang dapat menimbulkan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan akan dihilangkan dan diarahkan kepada tontonan serta konsumsi media yang membangkitkan semangat Islam dalam menuntut ilmu seperti berpendidikan dan juga dakwah untuk kelangsungan kehidupan Islam. Wallahu’alam bishawab.(Red/RIN/Lapan6 Group)

*Mahasiswi IAIN Samarinda
Prodi Bimbingan Konseling Islam

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *