Baju Lebaran Dan Kerinduan Paramedis Perawat Pasien Covid-19 Di Hari Raya Idul Fitri

Jakarta, Perpek Media – Gema takbir, tahmid dan tahlil berkumandang. Hari kemenangan itu telah datang. Momen Hari Raya Idul Fitri ini lazimnya menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga besar. Berkumpul, silaturahmi dan saling bermaafan bersama sanak saudara.

Namun, hal tersebut tak bisa dirasakan semua orang. Idul Fitri pada 1441 Hijriah kali ini, menjadi lebaran terberat yang dirasakan paramedis. Berjuang di garda terdepan melawan pandemi coronavirus disease (covid-19).

Inilah yang dirasakan paramedis yang tergabung dalam tim covid-19 di Semen Padang Hospital (SPH). Dalam nuansa lebaran tahun ini, mereka tetap melayani untuk memberikan perawatan dan semangat bagi para pasien yang terpapar virus covid-19.

Di lantai IV, wing timur dan barat, di sanalah paramedis SPH berjibaku bekerja dalam pengapnya alat pelindung diri (APD) yang dikenakan. Mungkin, pengapnya APD masih bisa ditahan, namun momen lebaran jauh dari keluarga tak semudah yang dibayangkan.

Tapi mereka tetap mencoba tegar dalam pengabdian profesi untuk semua, demi memutus rantai penyebaran. Sedikitnya, ada 11 tenaga medis saat momen lebaran ini tetap bekerja. Mereka dibawah komando Kolonel CKM (purn) dr. Farhaan Abdullah yang juga merupakan selaku Direktur SPH.

“Momen hari libur lebaran ini saya dokter spesialis yang jaga. Walaupun nuansa lebaran, kami siap mendampingi pasien di rumah sakit,” kata Farhaan yang merupakan dokter spesialis THT-KL saat dihubungi langgam.id, Minggu (24/5/2020).

Farhaan mengungkapkan, terdapat 57 pasien yang sedang masa perawatan di ruang khusus covid-19. Mereka terdiri dari 50 pasien positif dan tujuh orang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Mayoritas, mereka berasal dari klaster penyebaran virus terbanyak di Kota Padang.

Bagi paramedis, katanya, tak banyak yang bisa dilakukan untuk merayakan hari kemenangan. Hanya berbaur dan saling menghibur, menjadi pengobat rasa kesedihan. Mereka mendatangi pasien sembari mengucapkan selamat hari lebaran. Berfoto bersama dan menuliskan ucapan selamat Idul Fitri di baju pelindung.

Sepucuk bunga dan bingkisan kue kering yang dibagikan, menjadi momen berharga bagi pasien dan paramedis. Senyum semringah di balik kerinduan, tentu yang dirasakan paramedis dan pasien. Apalagi selama paramedis tergabung dalam tim covid-19, mereka harus dikarantina dan tidak pulang.

“Saya sudah dua bulan tidak pulang ke rumah. Begitupun para perawat dikarantina di mes,” ujarnya.

Namun paramedis tetap gembira, walaupun rasa rindu ingin untuk kembali pulang. Mereka tetap bekerja ikhlas hingga rela waktu berharganya demi mengabdi berjuang memutus wabah pandemi.

Farhaan pun selalu memberikan motivasi dan semangat bagi rekan timnya. “Saya hanya bisa sampaikan kepada tim, kalian mendapat kesempatan di hari yang suci ini ikut memperhatikan sesama. Jadi bekerja dengan hati, empati yang lebih terhadap pasien di tengah wabah ini,” pesan yang selalu dilontarkannya.

Selain Farhaan, juga terdapat dua dokter umum lainnya yang tetap bekerja di ruang khusus covid-19. Mereka bernama dr Maya dan dr Dian, selebihnya delapan orang lainnya merupakan perawatan yang tangguh memberikan pelayanan.

“Kami selaku rumah sakit rujukan covid-19, siap tampil di garda terdepan untuk memutus penyebaran virus. Kami bekerja selama delapan jam, yang dibagi menjadi tiga shift,” tuturnya.

Bagi paramedis, melepaskan kerinduan hanya bisa dilakukan diwaktu senggang dengan cara berkomunikasi dengan video call dengan orang tersayang. “Rasa rindu tentu, manusiawi. Hanya video call yang bisa dilakukan. Tapi kami happy,” katanya. (Irwanda/SS/langgam.id)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *