New Normal, Buya Gusrizal: Muslim Wajib Pegang ‘Islamic Life Style’

Padang, Perpek Media – Bicara soal new normal, atau hidup normal baru, yang sudah jadi agenda nasional akan dijalani di saat wabah COVID-19 menyerang berbagai sisi kehidupan seperti sekarang ini, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat (Sumbar) Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Baso ikut bicara. Buya menekankan, bagi sebuah daerah yang notabene berkearifan lokal Adat Basandi Syara’-Syara’ Basandi Kitabullah, yang tentunya mayoritas penduduk adalah muslim, Sumbar sudah seharusya lebih menekankan pada sendi kehidupan berlandaskan aturan syariat Islam.

“Istilah new normal tidak cocok dipakaikan di negara mayoritas muslim, nah dalam hal ini daerah yang penduduknya mayoritas muslim, yaitu Sumatera Barat. Ini karena akan menimbulkan masalah dalam penerapan ibadah dan bisa diperalat untuk membatasi tanpa petunjuk syari’at yg tepat,” tegas Buya disampaikan pada SumbarFokus, Selasa (26/5/2020).

Menurut Buya, apa yang ditekankan dalam format new normal, seperti gaya hidup sehat, etika saat batuk atau bersin, atau yang lainnya, itu semua sudah dicakup dalam nilai-nilai agama Islam. Oleh karena itu, sudah seharusnyalah masyarakat diperkenalkan dan dididik untuk melaksanakan syariat Islam seutuhnya.

“Bahkan Islam sudah lama memperkenalkan bagaimana seorang non mahrom tidak boleh berjabat tangan, bagaimana seseorang ketika bersin atau batuk atau bahkan menguap harus menutup mulut, dan lain sebagainya, ada dalam Islam. New normal itu, malah bisa bias bila dibawa ke dalam ranah ibadah karena membutuhkan lagi petunjuk syari’at,” tutur Buya.

Ditegaskan, dalam hal ini, seharusnya masyarakat diajak untuk kembali kepada pegangan umat sejati, yaitu Alquran dan sunnah. Dalam pegangan umat tersebut, kehidupan dirumuskan utuh.

“Kalau kita mau sebut, ya sebut saja islamic life style,” imbuhnya.

Pola hidup menjaga kesehatan tubuh, bagaimana seorang mukmin harus menjaga daya tahan tubun dan punya kekuatan, bagaimana menjaga kebersihan dan kerapian disenangi oleh Nabi, dan masih banyak hal lagi yang bisa digali dalam syariat yang harusnya diperkenalkan pada masyarakat.

“Ini juga akan memicu para ulama untuk kembali membongkar khazanah ilmu keislaman agar berbagai warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah dan para shahabat serta para ulama terdahulu diimplementasikan saat ini. karena itulah jawaban yg utuh bagi semua masalah yang terjadi,” kata pria yang juga dikenal vokal menolak Islam Nusantara ini.

Memperkenalkan islamic life style atau gaya hidup berbasis ajaran Islam pada masyarakat Sumbar, dikatakan, juga sangat tepat terutama mengingat ada kearifan lokal di Ranah Minang yang kental dengan ABS-SBK-nya. (003)

*Sumber: sumbarfokus.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *