Dua Hari Tak Makan, Sopir Taksi Meninggal, Diduga Kelaparan?

Jakarta, Perpek Media – Wisnu, seorang sopir taxi blue bird kedapatan meninggal dunia di sebuah mess pool taxi blue bird di Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. Diperkirakan meninggal sekitar pukul 04.00 WIB dini hari pada Selasa (16/06/2020).

Kematian Wisnu terkesan misterius, pihak kepolisian setempat pun tidak mengetahui bahwa ada korban meninggal. Hanya kalangan sopir yang dekat dan peduli dengan nasib tragis yang dialami Wisnu lah yang mengetahui ikhwal kejadian awal Wisnu meninggal.

Dua Hari Tidak Makan
Dari informasi yang diperoleh Tim Media Jaringan Lapan6 Group, pada Rabu (10/06/2020) menyebutkan bahwa Almarhum sudah 3 hari tidak bekerja akibat diskorsing. Rekan korban yang tak ingin disebutkan namanya menceritakan sebelum Wisnu meninggal, bahwa almarhum saat itu dalam kondisi sedang diskorsing (tidak diijinkan membawa unit/taxi keluar) beroperasional.

“iya…katanya gara2 stop operasi 3 hari karna setoran di bawah 100 rb berturut – turut, lalu tidur – tiduran aja di mess pool, udah 2 hari gak makan, karna ga ada yg ngasi utangn dan bon di kantinnya udah banyak, terus di kasih indomie ceritanya ama kawannya, terus di makan mentah ama dia dan minum kopi, trus berbusa mulutnya. (Wisnu) dibawa ke harum, katanya asem lambung akut, meninggal jam 4 subuh tadi. begitu isi suara rekaman itu lae, ” jelas sumber tersebut dalam pesan WhatsApp yang diterima redaksi Lapan6online, Jumat (19/6/2020).

Penghasilan Di bawah Rp100 Ribu Diskorsing?
Sementara itu, sistem di Blue Bird berdasarkan informasi dari salah satu sumber (sopir taksi,red) ketika dimintai keterangan mengatakan, pengemudi tidak boleh mendapat penghasilan di bawah 100 ribu. Jika di bawah 100 ribu, dia akan mendapatkan skorsing.

”Per hari, minimal pengemudi tidak boleh mendapat penghasilan di bawah 100 ribu. Jika di bawah 100 ribu, dia akan mendapatkan skorsing dari pool yaitu tidak boleh kerja selama 1 schedule, terkait skorsing disesuaikan oleh kebijakan masing-masing pengawas pool,” jelasnya.

Dari hasil penelusuran diperoleh keterangan dari supir taksi lainnya yang mengatakan banyak hal yang diduga tidak masuk akal. “Sekelas Blue Bird sampai keleleran (kelaparan,red) karena tidak makan, terlebih dimasa pandemic hingga Idul Fitri pun mereka menjerit.” terang sang Driver dalam pesan WhatsApp dan meminta namanya tak disebutkan.

“Terlebih kondisi di lapangan masih 35 persen, belum normal 100 persen. Selama pendemi dari awal sampai akhir pihak Blue bird cuma kasih bantuan beras sebanyak 3,5 kg. Itu pun 1 kali dan berasnya tidak layak (Pera). Ada bantuan BLT dari pemerintah selama 3 bulan, bantuan pertama sudah cair pada bulan April lalu. Bantuan kedua katanya akan cair pada bulan Juni setelah hari Raya Idul Fitri, tapi sampai saat ini belum cair,” tandas dia.

Menurutnya, selama masa pandemi Covid-19, bantuan sembako yang lain datangnya dari donatur luar. Blue bird sendiri, kata dia, tidak ada sumbangsih kepada kesejahteraan pengemudi.

“Padahal pengemudi adalah ujung tombak perusahaan, terlebih dengan statusnya mitra, perusahaan taksi terbesar dan nomor 1 di Indonesia skala internasional dengan badan hukum PT. Blue Bird Group TBK, tapi tidak tahu kondisi di lapangan,” pungkasnya.

Tanggapan PT Blue Bird Tbk
Sementara itu, menanggapi kematian salah satu driver Blue Bird di Pool Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur itu, Steven Sanjaya, Public Relations PT Blue Bird Tbk, melalui Aninda Perdana, Head of Corporate Communications menyampaikan bahwa Keluarga besar PT Blue Bird turut berduka atas meninggalnya Wisnu pada Selasa lalu.

“Perlu untuk diketahui bahwa sesuai dengan keterangan medis dari pihak rumah sakit, kematian Bapak Wisnu disebabkan oleh serangan jantung, bukan disebabkan oleh hal lain,” terang Aninda Perdana dalam keterangan elektronik yang disampaikan kepada redaksi Lapan6online, Sabtu (20/6/2020).

Menurut dia, sejak awal pandemi Covid-19, pihaknya telah menempatkan kesejahteraan pengemudi sebagai salah satu prioritas perusahaan.

“Oleh karena itu manajemen telah menerapkan berbagai program dan kebijakan, termasuk diantaranya adalah melakukan pemberian sembako secara bertahap, penyediaan makanan gratis di kantin pool Bluebird, hingga inovasi peluncuran program pelayanan pengantaran logistik untuk memastikan pengemudi Bluebird mendapatkan pelanggan.” klaimnya.

Selain itu untuk terus memberikan pelayanan maksimal kepada para pelanggan Bluebird, Aninda menerangkan bahwa pihaknya telah menempatkan kondisi fit serta kesehatan pengemudi sebagai faktor yang mutlak.

“Semua pengemudi Bluebird Group diberikan akses fasilitas kesehatan bernama JPK3 (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Karyawan dan Keluarga,red).” Terangnya.

Dijabarkan, melalui fasilitas JPK3 ini, pengemudi dapat melakukan konsul dan pemeriksaan gratis terhadap kondisi kesehatannya langsung di klinik pool, yang tersedia di semua pool Bluebird.

“Yang terbaru, kami juga telah melakukan rapid test terhadap pengemudi Bluebird Group secara berkala. Hal ini untuk memastikan bahwa pengemudi kami siap dalam memberikan pelayanan, serta memberikan kenyamanan dan peace of mind dari masyarakat khususnya pelanggan setia saat bepergian bersama Bluebird.” Tandas Aninda.

(Tim Media Jaringan/Red/Lapan6 Group)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *