Pentingnya Peran Negara Dalam Beragama

Oleh: Tita Rahayu Sulaeman

Jakarta, Perpek Media – Bulan ini program sertifikasi da’i atau penceramah dari Kemenag akan direalisasikan.

Pada tahap awal, program sertifikasi penceramah akan diterapkan pada 8200 orang dari semua agama. Meski menimbulkan penentangan dari sejumlah pihak, Kemenag tetap merealisasikannya. Menteri agama Fachrul Razi menegaskan program tersebut bertujuan untuk mencetak penceramah yang memiliki bekal wawasan kebangsaan dan menjunjung tinggi ideologi Pancasila. (CNN news).

Salah satu pihak yang tidak menyetujui program sertifikasi penceramah adalah MUI. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (Waketum MUI) Muhyiddin Junaidi bersikap tegas menolak terhadap wacana sertifikasi penceramah.

Menurutnya, program ini kontra produktif. Ia khawatir, kebijakan tersebut berpeluang dimanfaatkan demi kepentingan pemerintah guna meredam ulama yang tak sejalan.

Kemenag berdalih bahwa program ini untuk menangkal penyebaran paham radikalisme. Namun hal ini patut dipertanyakan.

Radikal yang dimaksud tidaklah jelas. Dalam sebuah wawancara Menag menyebutkan, paham radikalisme dibawa oleh mereka yang good looking, hafidz Qur’an dan pandai bahasa arab. Paham berbahaya seperti apa yang dibawa oleh orang-orang yang taat pada agamanya ?

Miris sekali, sentimen negatif dibangun terhadap sosok yang taat agama. Mengapa Kemenag membuat kebijakan yang banyak menimbulkan kontroversi di tengah umat?

Berdakwah adalah perintah Allah SWT

Menjadi da’i atau penceramah adalah penyampai kebenaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Da’i juga mengajak pada kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.

Jadi, jika pun ada standar bagi para penceramah maka cukuplah Al-Qur’an dan Sunnah menjadi rujukan standar para penceramah.

Perintah untuk menyeru pada kebaikan dan menjauhi keburukan telah Allah SWT sampaikan melalui firmanNya dalam Al-Qur’an.

Maka, apa-apa yang disampaikan dipertanggung jawabkan langsung di hadapan Allah SWT. Ketika seseorang berdakwah, ia lakukan semata-mata hanya untuk melaksanakan perintah Allah.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“.[At-Taubah:71]

Peran Negara dalam Beragama

Bagi umat, program sertifikasi penceramah bukanlah sesuatu yang urgent untuk dilaksanakan di tengah kondisi negeri yang memprihatinkan seperti ini.

Sungguh, kemaksiatan yang merajalela di depan mata lebih penting untuk ditangani melalui otoritas negara. Kemenag semestinya merangkul orang-orang yang paham agama untuk sama-sama membangun masyarakat yang taat pada agamanya.

Peran negara sesungguhnya sangat diperlukan dalam kehidupan beragama. Mulai dari menjaga aqidah tiap warganya dengan cara menentukan kurikulum pendidikan yang mempertebal keimanan dan ketakwaan, membiasakan amar ma’ruf nahi munkar; mencukupkan setiap hak-hak dan kewajiban beragama tiap warganya dengan memfasilitasi setiap ibadah pada Allah, tidak memaksa orang kafir masuk ke dalam agama Islam; hingga menegakkan aturan serta sanksi bagi para pelanggarnya.

Sayangnya, kita hidup di negara yang hanya mengakui agama di rumah-rumah ibadah. Di luar rumah ibadah, masyarakat diminta untuk melepas atribut keagamaannya. Padahal islam, agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Maka ketaatan sesungguhnya dari umat islam pada ajarannya tak akan pernah bisa terwujud di bawah kehidupan negara demokrasi sekuler seperti sekarang ini. Oleh karena itu, sudah saatnya kita beralih pada sistem kehidupan yang bisa menjaga kita dalam beragama, yakni Islam. [RIN]

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *