Mapel Sejarah Dihapus, Apa Jadinya?

Oleh: Meyly Andyny

Jakarta, Perpek Media – Dikutip dari CNNIndonesia (18/9/2020), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana menetapkan bahwa mata pelajaran sejarah tidak wajib dipelajari siswa SMA dan sederajat. Di kelas 10, sejarah digabung dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sementara Bagi kelas 11 dan 12 mata pelajaran sejarah hanya masuk dalam kelompok peminatan yang tak bersifat wajib.

Hal itu tertuang dalam rencana penyederhanaan kurikulum yang akan diterapkan Maret 2021.

Wacana penghapusan wacana mata pelajaran (mapel) Sejarah menimbulkan berbagai penolakan dari para pemangku kepentingan yang terkait dengan dunia pendidikan. Salah satunya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Dilansir dari JawaPos (21/9/2020), Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi mengatakan, pihaknya menolak rencana yang asal tersebut. Sebab mapel sejarah sendiri berkontribusi penting untuk memberikan pemahaman nilai perjalanan suatu bangsa kepada generasi selanjutnya.

Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menjelaskan, tidak benar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menghapus mata pelajaran sejarah dari kurikulum nasional (Republika, 21/9/2020).

Meskipun Mendikbud telah mengklarifikasi akan hal itu, tentunya wacana ini harus terus dikawal. Pasalnya jika wacana reduksi ini benar diterapkan pada bulan Maret 2021, lantas bagaimana kualitas para generasi yang akan terbentuk dari kurikulum baru ini?

Dapat dipastikan generasi yang terbentuk adalah generasi yang tuna sejarah. Generasi bangsa yang lahir dari dunia pendidikan akan krisis mengalami identitas, jati diri, maupun memori kolektif negerinya sendiri. Padahal setiap negeri tentunya mempunyai sejarah, baik sejarah kelam ataupun sejarah yang menjadikan bangsa itu besar.

Ada begitu banyak sejarah yang harusnya diketahui dan dipelajari oleh para generasi, salah satunya adalah sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang didukung dengan bukti bukti yang masih terasa hingga saat ini. Begitu pula sejarah kelam Gerakan 30 September (G30S/PKI). Di mana peristiwa ini bukan hanya melenyapkan pemerintah pusat, melainkan juga masyarakat biasa, terutama para ulama tradisional, santri, ataupun masyarakat lain yang dikenal karena kesholehannya. Lantas apakah ketika mata pelajaran sejarah direduksi generasi anak bangsa masih bisa memahami peristiwa tersebut?

Upaya mereduksi mata pelajaran sejarah dalam kurikulum baru merupakan kebijakan yang sangat fatal dan berbahaya bagi generasi penerus bangsa ini. Dengan hilangnya sejarah, tentu akan mempengaruhi cara berpikir generasi tentang arti dan kecintaan terhadap tanah airnya.

Tanpa pelajaran sejarah. memori generasi bangsa nantinya tidak mampu membedakan perjalanan dan peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Mereka tidak akan mengetahui apa dan bagaimana musuh musuh bangsa ini dan juga tidak akan paham bagaimana menghargai para pejuang dan pahlawan yang telah berkorban memerdekakan bangsa ini dari penjajahan dan pemberontakan PKI yang telah berkhianat di tahun 1948 dan 1965 lalu.

Selain itu, upaya reduksi terhadap pelajaran sejarah ini seakan menunjukkan bahwa para pemimpin di negeri ini tidak memahami urgensitas sejarah bagi keberlangsungan kehidupan bangsa dan generasi.

Padahal sejarah memuat berbagai informasi penting yang harus diketahui oleh para generasi. Apa yang terjadi di masa lalu itu merupakan rekam jejak yang harus menjadi pelajaran untuk kebaikan sebuah bangsa.

Kata Presiden Ir. Soekarno, jangan sekali kali melupakan sejarah. JASMERAH!!

Dalam Islam, sejarah begitu urgen untuk diketahui dan dipelajari oleh generasi sebuah bangsa. Sejarah berperan penting bagi keberlangsungan kehidupan bangsa dan generasi.

Dengan mempelajari sejarah generasi memiliki informasi mengenai peristiwa yang pernah terjadi. Ketahuilah bahwa di dalam sejarah itu terdapat hikmah yang dapat dijadikan Ibrahim atau pelajaran.

Dalam sistem pendidikan Islam, sejarah diposisikan sebagai salah satu mata pelajaran penting untuk diajarakan. Tentunya dalam pengajaran sejarah ini pun akan disaring mana yang boleh dan yang tidak boleh diambil.

Penyaringan ini harus disesuaikan dengan akidah Islam. Dengan begitu, generasi bangsa tidak akan menjadi tuna sejarah dan dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa sejarah.

Sehingga para generasi mampu berpikir cemerlang agar bangsanya menjadi lebih besar, serta masa kelam takkan terjadi lagi.[RIN]

*Mahasiswi Pendidikan Matematika
FKIP UMSU

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *