Kalangkabut, Prancis Minta Bantuan Grand Syaikh Al -Azhar Hentikan Pemboikotan

Jakarta,  Perpek Media — Seruan boikot produk Prancis akibat pernyataan Presiden Emmanuel Macron tentang Nabi Muhammad telah menunjukkan dampak yang serius. Hal itu membuat sejumlah pejabat tampak kalang kabut.

Untuk mencegah pemboikotan semakin meluas, Prancis mendekati Grand Syaikh Al Azhar Syaikh Ahmad Thayib. Duta Besar (Dubes) Prancis memohon kepada Syaikh Ahmad Thayib untuk menghentikan gelombang pemboikotan.

Bagaimana respon Al Azhar? Syaikh Ahmad Thayib menolak permintaan Dubes Prancis tersebut.

“Kami tidak menerima negoisasi terkait kasus penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Macron harus segera meminta maaf,” kata Syaikh Ahmad Thayib seperti dilansir azhar.eg, Rabu (28/10/2020).

Tak hanya itu. Syaikh Ahmad Thayyib juga memimpin pertemuan para ulama dan cendekiawan yang tergabung dalam Majelis Hukama Al Muslimin bertemu melalui telekonferensi untuk membentuk komite khusus yang berisi para pakar dalam hukum internasional.

Komite itu dibentuk dalam rangka menuntut media Prancis Charlie Hebdo, atas penghinaannya terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Sebelumnya diberitakan, Prancis mendesak negara-negara Timur Tengah untuk megakhiri seruan boikot mereka terhadap produk Prancis.

Kementerian luar negeri Prancis mengatakan bahwa seruan boikot itu “tak berdasar.” Seruan memboikot Prancis, kata Kemenlu Prancis, merupakan kampanye yang “didorong oleh minoritas radikal”.

Sedangkan Dubes Prancis untuk Swedia, Etienne de Gonneville, menyebut negaranya adalah negara Muslim.

“Pertama, Prancis adalah negara Muslim,” kata Etienne de Gonneville. “Islam adalah agama terbesar kedua di Prancis. Kami memiliki antara 4 hingga 8 juta warga Prancis yang memiliki warisan Muslim,” ujarnya, Selasa (27/10/2020). [Tarbiyah]

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *