Wacana Pemberdayaan Ragam Etnis Dalam Pembangunan

Oleh: Retno Purwaningtias, S.IP (Aktivis Muslimah)

Jakarta, Perpek Media – Seorang Antropolog Sumut, Irfan Simatupang, melihat potensi ragam etnis yang ada di kota Medan sebagai peluang dalam pembangunan. Menurutnya, kekayaan etnis atau suku bisa dijadikan landasan atau paradigma oleh pemerintah untuk membangun kota Medan. Tidak adanya etnis atau suku yang mendominasi akan memudahkan proses pembauran dalam masyarakat. “Jika dilihat dari cara berkomunikasi, beragam etnis ini menggunakan simbol atau bahasa nasional. Tidak ada dominant culture di sini.” (Irfan Simatupang, waspada.co.id, 21/10/2020).

Menurut Irfan, mempelajari karakteristik dan menggali kearifan lokal masing-masing budaya dapat diterjemahkan untuk proses pembangunan. Misalnya, Suku Batak yang kental dengan kekerabatannya bisa terjemahkan sebagai bentuk semangat gotong royong; Suku Minang dan Etnis Tionghoa yang terkenal dengan kemampuannya dalam berdagang bisa dimanfaatkan untuk sektor ekonomi. Begitu pula dengan Suku Jawa yang terkenal dengan semangat kerja kerasnya.

Sebenarnya, upaya mengkotak-kotakkan potensi keragaman masyarakat berdasarkan etnis ini sangat tidak relevan jika dihubungkan dengan percepatan teknologi dan informasi. Hari ini teknologi dan informasi bisa diakses oleh siapa saja tanpa memandang etnis dan golongan tertentu. Selain itu, wacana ini lahir tanpa adanya fakta sejarah atau bukti keberhasilan suatu pembangunan yang dilandasi ikatan antarsuku atau etnis. Justru yang sering ditemui adalah kasus-kasus yang menyangkut sentimen antarsuku yang sering dijumpai di masyarakat.

Hal ini bisa memberikan gambaran bahwa kondisi masyarakat kita sangat mudah diprovokatori dengan isu kesukuan. Karena ikatan kesukuan selalu menumbuhkan pemikiran yang sempit. Akan sangat sulit bila menjadikan wacana tersebut sebagai landasan dalam membangun masyarakat. Wacana ini hanya akan menjadi impian tingkat tinggi.

Lagi pula, pembangunan adalah sebuah usaha untuk merencanakan perubahan. Segala sarana dan prasarana berupa fasilitas, seperti adanya infastruktur, rumah sakit, sekolah, rumah ibadah, sanitasi dan lain-lain menjadi takaran kesuksesan dari sebuah pembangunan. Sehingga pembangunan sebuah kota akan erat kaitannya dengan masalah sistemik. Sedangkan wacana alternatif pemberdayaan ragam etnis atau suku ini muncul karena pemerintah dipandang tak mampu mengeluarkan solusi yang benar untuk perubahan kota Medan yang lebih baik.

Jika keragaman etnis dijadikan asas dalam merencanakan pembangunan, masalah sistemik tidak akan pernah menemukan jalan keluar. Karena keragaman etnis ini bukanlah sebuah solusi. Wacana ini tidak layak dijadikan pijakan perubahan dan pembangunan karena sebuah landasan pembangunan haruslah berupa sebuah pemikiran menyeluruh yang bisa mengatur kehidupan manusia dengan pasti dan selaras. Sehingga yang layak dijadikan landasan adalah sistem sebuah negara. Jika yang dijadikan landasan pembangunan adalah sistem yang baik, maka pemberdayaan ragam etnis dan suku dapat menjadi sebuah potensi besar dalam masyarakat.

Namun sayangnya sistem negara kita hari ini berkiblat pada kapitalis liberal. Selama sistem ini digunakan sebagai acuan kebijakan, maka selama itu pula standar pembangunan dan perubahan akan mengarah pada kapitalis. Sudah terbukti dari disahkannya undang-undang Ciptaker. Semua regulasi yang dihasilkan hanya akan merepresentasikan kepentingan para korporat. Dari sinilah sumber permasalahan masyarakat sebenarnya.

Kapitalisme hanya memusatkan perhatiannya pada individu dan mengabaikan masyarakat. Di dalam masyarakat yang terbentuk dalam sistem kapitalisme, tidak akan terbentuk ikatan satu perasaan, satu pemikiran dan satu aturan dalam masyarakat, maka tidak heran jika sering terjadi realita perkelahian antarsuku dalam sistem ini.

Selain itu, asas ekonomi yang dilahirkan dari sistem kapitalisme ini berbasis liberal. Menempatkan penguasaan sumber daya alam yang bebas kepada swasta dan asing. Pergerakan ekonomi dan mekanisme pasar dikuasai oleh para pemilik modal tanpa campur tangan siapa pun termasuk negara dan pemerintah. Semua ini akan berdampak pada sulitnya pemerataan ekonomi di masyarakat, karena para pemilik modal akan semakin kaya, dan masyarakat yang susah akan terjebak pada lingkar kemiskinan yang sistemik. Semakin menambah deretan panjang rusaknya sistem ini.

Akan lain halnya bila keberagaman etnis tumbuh dalam sistem terbaik, yaitu sistem islam. Karena bukti sejarah telah mencatat kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam membangun Madinah yang masyarakatnya sangat beragam.

Nabi mempersatukan kaum Anshar dan Muhajirin, menata Negera Islam di Madinah dengan menyusun Piagam Madinah. Dengan itu, semua elemen masyarakat selain kaum Muslim, seperti kaum Yahudi, dapat ditundukkan. Mengubah mereka menjadi masyarakat yang bertauhid, berhukum hanya pada hukum Allah, berakhlak luhur, menjalankan muamalah secara jujur dan amanah, serta memiliki sistem pemerintahan yang kukuh dan sukses menciptakan keadilan.

Nabi Muhammad telah berhasil mengikat masyarakat Madinah dalam satu sistem yang mampu merekatkan keragaman yang ada. Nabi mengikat masyarakat Madinah dengan satu pemikiran, satu perasaan dan satu aturan yang sama, yaitu sistem islam. Beliau pun mengajarkan persamaan di antara seluruh manusia serta kewajiban untuk saling tolong-menolong.

Bahkan seorang tokoh Katolik terkemuka, Raymound Leruge, dalam bukunya ia menceritakan sangat mengagumi Nabi Muhammad SAW. Bukan sebagai Nabi, Namun sebagai seorang pemimpin yang berhasil melakukan perubahan total (revolusioner) dan membangun suatu negara yang berkeadilan.

Dengan demikian, keberagaman etnis dan suku dalam masyarakat akan menjadi sebuah potensi yang besar bila keberagaman ini dinaungi oleh sebuah sistem yang benar. Sebuah sistem yang layak dijadikan asas dan landasan untuk melakukan perubahan dan pembangunan, yaitu islam. Karena dalam sistem islam masyarakat akan diikat dengan satu perasaan, satu pemikiran dan satu aturan atau sistem.

Menegakkan hubungan di antara masyarakat yang beragam suku atau etnis di atas pemikiran dan perasaan yang sama akan menimbulkan kehidupan yang selaras dan harmonis. Karena dalam islam keberagaman adalah sesuatu yang berharga, bukan menjadi masalah dan hanya islam yang mampu merekatkan keberagaman etnis masyarakat.

Allah berfirman, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. Al Hujurat: 13).

Wallahu’alam Bisshowwab.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *