Krisis Keamanan di Sistem Kapitalis?

Oleh: Hamidah

Jakarta, Perpek Media – Masih segar dalam ingatan kisah tewasnya Rangga si pahlawan kecil dari Aceh yang ingin menyelamatkan ibundanya. Kini kita kembali di kejutkan oleh penemuan sesosok mayat perempuan yang dimasukkan ke dalam sumur.

Bunda Maya itu namanya. Seorang guru ngaji yang ternyata dibunuh dengan sadis oleh KA, yang me,rupakan suami dari pembantunya. Bunda Maya dipukul berkali-kali oleh KA.

Bahkan menurut pengakuan KA, Bunda Maya babak belur hingga giginya copot. Dalam keadaan sekarat, Bunda maya diseret ke lobang sumur dan dibuang.

“Dipukul, ditendang sampai gigi copot. Dari situ pelaku ada ide membuang ke dalam sumur, membuang ke sumur itu bukan ide pelaku,” kata Kapolsek Cibinong, AKP I Kadek Vemil saat ditemui di Polsek Cibinong. (suarajakarta.id, 04/11/2020).

Kisah Rangga dan Bunda Maya ini adalah segelintir dari kisah-kisah tragis yang banyak dialami oleh rakyat negri ini. Rasa keamanan yang ada di negri ini kembali mengalami goncangan krisis yang sangat parah. Ditambah masa pandemi yang mengakibatkan banyaknya penggangguran lalu menambah deretan kemiskinan yang semakin membuncah. Ini memicu tindak kriminalitas yang semakin tinggi di tengah-tengah masyarakat.

Sejatinya, keamanan itu adalah kebutuhan yang harus didapatkan oleh seluruh manusia, maka dari itu negara adalah pihak yang paling bertanggung jawab untuk memenuhi keamanan dalam negri ini. Bila tidak, maka akan berlaku hukum rimba; yang kuat akan memakan yang lemah.

Negara dengan seperangkat alat yang ia punya sudah selayaknya memberikan berbagai layanan agar tercipta sebuah keamanan di tengah-tengah masyarakatnya, seperti pembentukan aparatur-aparatur negara, lembaga pelayanan masyarakat dan sejumlah hukum yang diterapkan di negri ini.

Ini semua semata-mata dibuat agar terciptanya keamanan bagi seluruh rakyat. Tapi apa yang telah dibuat oleh negara ini? Kenapa keamanan itu seolah-olah enggan menyambangi negri tercinta ini? apa yang salah dari semua itu?

Yang salah adalah kita tak mengambil hukum dari yang menciptakan manusia. Padahal Dia-lah yang paling tahu hukum yang terbaik bagi manusia, dimana manusia itu akan takut melakukan tindak kriminalitas karena sanksi yang diberikan begitu tegas.

Dalam kasus pembunuhan, maka islam akan memberikan sanksi hukuman mati bagi pelaku, ini sesuai dengan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS. al-Baqarah: 178).

Bagi pembunuh yang sudah dimaafkan oleh keluarga terbunuh, maka ia akan bebas dari hukuman qishash, dan wajib baginya membayar diyat kepada keluarga terbunuh sebanyak 100 ekor unta. Jumhur ulama sepakat dengan jumlahnya bagi wilayah yang tidak mempunyai unta dapat diganti dengan lembu atau kerbau atau yang sejenis dengannya. Dalam Islam, qishash diberlakukan karena di sana ada kelangsungan hidup umat manusia, sebagaimana firman Allah, “Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 179).

Dengan di berlakukannya hukum islam, maka nyawa manusia akan terjaga. Orang tak akan berani merencanakan aksi pembunuhan karena ia tahu hukumannya berat, yaitu sama saja ia akan mati juga.

Inilah fungsi hukum islam sebagai jawabir, yaitu penebus dosa pelaku yang ketika diberlakukan hukuman itu di dunia, maka ia takkan mendapatkan hukuman lagi di akhirat dan hukum islam juga sebagai zawajir, yaitu pencegah orang melakukan hal yang sama, maka dengan ini nyawa serta keamanan masyarakat akan terjaga.

Namun Kapitalisme dengan akidahnya yang sekulerisme meniadakan peran Allah dalam kehidupan mereka. Hukum Allah hanya akan ada bila mereka di dalam masjid-masjid atau pun pengajian saja. Hukum Allah ini tidak nampak eksistensinya bila mereka berada di kehidupan bermasyarat dan bernegara.

Nah, inilah pangkal kerusakan dan keburukan dari segala hal, termasuk marak nya pembunuhan, perampokan, dan pemerkoasaan yang mengakibatkan krisis kemanan itu terjadi.

Maka sudah saat nya kita mengambil sistem dari langit–islam–agar bumi ini mendapatkan rahmat dan berbagai kebaikan-kebaikan yang di ingikan manusia. Allah berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96 )

Wallahu alam bisshowab.

*Penulis adalah Aktivis Dakwah

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *