Mengakhiri Hijrah, Menghentikan Dakwah

Oleh: Retno Purwaningtias

Jakarta, Perpek Media – Menjadi lebih baik adalah keinginan setiap orang. Bahkan saat ini banyak sekali kita jumpai teman-teman yang dulunya belum baik, kini memutuskan untuk hijrah dan berazam ingin menjadi lebih baik. Bagi yang sedang berproses menjadi baik, tak sedikit yang melibatkan diri dalam jalan dakwah. Ikut menyerukan amar ma’ruf nahiy munkar ke tengah-tengah keluarga, teman, dan masyarakat. Terlibat dalam aksi-aksi turun ke jalan untuk memberantas kedzaliman.

Namun, pernahkah teman-teman melihat kondisi yang sebaliknya? Orang yang kita lihat sebelumnya sudah berhijrah menjadi lebih baik, berpakaian syar’i sesuai dengan syariat, militan dalam dakwah, dan paling aktif menyerukan amar ma’ruf nahiy munkar, seiring dengan berjalannya waktu malah memutuskan untuk berhenti. Berhenti hijrah, berhenti berdakwah, bahkan berhenti menjadi lebih baik.

Padahal bila dilihat ia adalah orang yang memiliki pemahaman islam yang kokoh dan wawasan islam yang luas. Ternyata itu semua tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai bahwa ia adalah orang yang paling istiqomah, konsisten dan berpegang teguh.

Banyak alasan. Mulai dari alasan sibuk, tidak ada waktu luang, susah membagi waktu, tidak bisa memberikan kontribusi maksimal, dan alasan-alasan lainnya yang bisa dijadikan alasan pembenar atas pensiunnya dia dari jalan kebaikan.

Sebenarnya, itu bukanlah alasan utama. Karena kita sebagai muslim sudah tahu bahwa dakwah adalah kewajiban bagi kita yang telah baligh dan berakal. Laki-laki maupun perempuan memiliki kewajiban untuk mengemban tugas dakwah. Dalil wajibnya dakwah juga sudah ada dalam surat Ali Imran ayat 110. Dalam ayat tersebut menunjukkan betapa mulianya umat islam dengan dakwah. Selain itu, tegak dan eksisnya umat islam adalah dengan menjalankan konsep amar ma’ruf nahi munkar.

Lalu apa yang menjadi alasan utama mereka? Wahai kawan, ketahuilah bahwa ungkapan “sibuk” dan alasan lainnya hanyalah tipu daya setan dan hawa nafsu yang berusaha memalingkan diri dari jalan kebenaran.

Memang tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita semua bisa istiqomah di jalan dakwah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa orang yang bersabar menjaga agamanya dengan meninggalkan dunia, seperti sabarnya orang yang menggenggam bara api dalam hal kesulitan dan puncak ujian.

Sehingga, bisa jadi yang dulunya ia adalah sosok yang sangat militan dalam dakwah, sekarang menjadi orang yang futur. Atau boleh jadi dia yang dulunya adalah orang yang mengajak kita hijrah, justru dia yang gugur dalam hijrahnya.

Setidaknya ada 3 hal yang membuat seseorang bisa memutuskan berhenti berhijrah dan pensiun dari jalan dakwah.

  1. Melakukan maksiat
    Banyak orang yang bisa berbuat baik ketika dilihat banyak orang, namun disaat sendiri ia justru melakukan maksiat. Ibarat air dan minyak. Maksiat dan dakwah adalah dua hal yang tidak bisa disatukan. Dakwah adalah jalan mulia, sedangkan maksiat adalah jalan hina. Allah tidak akan ridho, sehingga orang tersebut pasti akan terlempar dari jalan dakwah.
  2. Menyombongkan diri
    Orang yang sombong adalah orang yang menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Orang sombong biasanya akan keras hatinya bila dinasehati oleh orang lain. Memilih mempertahankan ego dan merasa paling benar sendiri. Ia tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Cepat atau lambat, orang yang berwatak seperti ini pasti akan terlempar dari jalan dakwah.
  3. Tidak ikhlas
    Orang yang tidak ikhlas saat melakukan kebaikan pasti akan setengah-setengah, tidak sepenuh hati. Segala sesuatu mengukur untung rugi untuk dirinya. Para aktivis dakwah biasanya memilih aktif dalam dakwah karena haus akan pujian atau memiliki tujuan tertentu. Bila kepentingannya sudah terpenuhi, maka ia akan segera futur dan gugur di tengah jalan.

Mari kita muhasabah diri. Semoga kita dihindarkan dari Allah dari ketiga hal di atas, sehingga Allah akan ridho atas hijrahnya kita dan kita diberi keistiqomahan dalam meniti jalan kebaikan hingga akhir hayat. Jangan lupa, selalu jadikan standar halal dan haram sebagai tolok ukur dalam perbuatan kita.

Wallahu’alam Bisshowwab

*Penulis adalah Aktivis Muslimah

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *