Tari Cokek, Tarian Tradisional Masyarakat Betawi

Jakarta, Perpek Media – Tari Cokek adalah tarian tradisional masyarakat Betawi di Jakarta. Tarian yang diiringi orkes Gambang Kromong ini, merupakan perpaduan kebudayaan Sunda, Jawa dan Etnik China. Dalam penampilan Tari Cokek, penari akan mengajak para tamu dengan mengalungkan selendang yang mereka gunakan ke leher para tamu untuk menari bersama. Dalam masyarakat Betawi di kenal dengan istilah Ngibing.

Dulunya Jakarta merupakan kota pelabuhan yang terkenal, sehingga menyebabkan beberapa budaya dari luar daerah maupun luar negeri mempengaruhi kebudayaan Betawi di Jakarta. salah satunya adalah Tari Cokek yang merupakan hasil akulturasi budaya luar.

Para penari Tari Cokek biasanya menggunakan kostum terdiri dari baju kurung dan celana panjang berbahan sutra, ujung celana bagian bawahnya ditambahkan hiasan berwarna senada dengan celana yang digunakan. Kemudian, selendang panjang dipakai di bagian pinggang, kedua bagian ujungnya dibiarkan terurai ke bawah rambut. Selain itu, ada juga para penari yang rambutnya dikepang lalu disanggulkan lalu ditambah hiasan tusuk konde yang bergoyang – goyang.

Sebagai pembukaan pada Tari Cokek ialah wawayangan, penari Cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki. Setelah itu penari Cokek menari bersama dengan mengalungkan selendang pertama-tama kepada tamu yang dianggap paling terhormat.

Bila yang diserahi selendang itu bersedia ikut menari maka mulailah mereka ngibing, menari berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak yang dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Ada kalanya pula pasangan-pasangan itu saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup leluasa biasa pula ada gerakan memutar dalam lingkaran yang cukup luas.

Iringan dari Tari Cokek menggunakan musik pengiring berupa alat musik tradisional Betawi, diantaranya: Gambang kromong, Kendang, Gong, Kecrek, Sukong, Suling, Tehyan, Konghyan.

Pada umumnya, lagu-lagu Gambang Kromong dapat mengiringi Tari Cokek. Tetapi secara pakem hanya beberapa lagu yang dijadikan sebagai lagu pengiring Tari Cokek, antara lain lagu: Gelatik Nguk-Nguk, Cente Manis Berdiri, dan Stambul Jalan. Pola gerak Tari Cokek sebenarnya tidak terlalu rumit, karena tari ini difungsikan sebagai tari pergaulan, dimana penari akan menyelendangkan kain cukin kepada penonton yang dipilihnya, biasanya penonton laki-laki. Penonton yang diselendangkan cukin itu, tidak menolak ajakan penari Cokek. Pada saat menari bersama itulah biasanya penonton memberikan uang tips yang disebut sawer.

Tari Cokek mempunyai pesan moral amat luhur yang harus senantiasa diingat dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya diungkapkan bagaimana manusia memelihara kehormatan tubuhnya. Dengan mengingat itu, maka manusia tidak terjerumus pada pergaulan yang merusak diri, rumah tangga dan lingkungannya.

Pada zamannya, Tari Cokek sering dipentaskan dalam acara adat, acara pernikahan, kenduri dan juga sebagai tarian untuk menyambut tamu. Namun dalam perkembangannya, pertunjukkan Tari Cokek kini hanya dapat ditemui di  acara besar, diantaranya saat perayaan hari ulang tahun DKI Jakarta dan Festival Budaya. (Jie)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *