Semoga Terealisasi, 20 Tahun Akhirnya Air Bersih di Kp. Pasir Ipis Akan Dialirkan Kades Abdul Kohar

Bogor Barat, Perpek Media – Bertahun-tahun Desa Gunung Mulia tepatnya di RT 003 RW 05 Kampung Pasir Ipis, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor Barat Jawa Barat tidak mendapatkan akses air bersih. Air merupakan kebutuhan vital masyarakat, di sana didapatkan dari kolam ikan sehingga kerap mendatangkan gatal pada tubuh, serta luka-luka pada anak-anak.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat di desa tersebut untuk mengusulkan pengadaan air bersih, terlebih ketika ada pemilihan kepala desa. Air bersih hanyalah bahan komoditas politis yang dijanjikan. Namun kenyataannya jauh panggang dari api. Semua janji-janji tak terpenuhi.

“Kami selama kurang 20 tahun memakai air kotor pembuangan bak kolam ikan, airnya dialirkan kepada warga, walaupun itu kebaikan warga tetapi air tersebut tidak layak untuk dipakai untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat. Dan ironisnya lagi air itu tidak gratis tetapi dibayar masyarakat sekitar Rp. 10.000.- – Rp. 15.000.- setip bulan oleh masyarakat yang menggunakannya,” demikian papar Sodikun.

Masyarakat mau tidak mau menerima karena benar-benar susah air. Jika air itu tidak dipakai otomatis masyarakat tidak dapat mandi, tidak dapat mencuci pakaian dan berbagai kebutuhan lainnya.

Ironisnya ada sumber-sumber mata air, yaitu: Mata Air Cai Rambutan yang terletak di Desa Gunung Malang, Mata Air Curug Luhur terletak di Desa Gunung Malang, Mata Air Cai Maraina terletak di Gunung Malang, Mata Air Rawa gabus tereltak di Gunung Malang dan Mata Air Ci Salad terletak di Gunung Mulya. Tetapi sumber mata air tidak ada satupun yang diupayakan disalurkan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di desa Gunung Mulia Kecamatan Tenjolaya. Sungguh ironis.

Calon kepala desa semua hanya memberikan janji-janji politik kepada masyarakat. Calon kepala desa itu umumnya memberikan janji angin sorga akan mengupayakan air bersih untuk masyarakat. Ternyata setelah berhasil menjadi kepala desa, terlupakan, semua isapan jempol belaka. Masyarakat telah menjalin berkomunikasi terkait pengadaan air bersih baik lisan maupun tertulis ternyata belum mendapat respons apalagi realisasinya.

“Coba carikan sumber mata air jika dapat saya upayakan dana untuk pengadaan air bersih meskipun saya mencari hutangan kepada pihak lain,” demikian ucapan Kepala Desa Abdul Kohar yang ditirukan Sodikun.

Ternyata 3 bulan setelah ucapannya dan masyarakat sudah menemukan mata air ternyata juga tidak juga direalisasikan Kepala Desa.

“Cobalah pemerintah pusat lihatlah kami, karena kami selama 20 tahun memakai air kolam pembuangan ikan, kolam tersebut anyir, anak-anak kami sakit kulit, ibu-ibu menderita gatal-gatal di tubuh. Jika Bapak dapat membangun di luar pulau Jawa kami di sini di Bogor susah mendapat air,” demikian ungkap Sodikin dengan nada yang cukup geram.

Dua orang ibu yang tidak mau disebut namanya, juga menyampaikan keluhan dan harapannya mereka menginginkan air bersih, air jernih, jika kami mau minum harus beli dan jika tidak punya uang terpaksa minum air tersebut. Mereka menyampaikan bahwa tubuh mereka gatal-gatal akibat menggunakan air itu untuk mandi. “Masa orang gunung susah airnya?” demikian paparnya.

Sementara itu Ketua Umum BJN (Baju Negeri Nusantara), Dedi Daryanto menyampaikan, “BJN (Baju Negeri Nusantara) terbentuk dari rakyat kecil, tidak ada tokoh besar di dalamnya. Tokoh yang diidolakan Jokowi,” ucapnya dalam perkenalan.

“BJN hadir membantu program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat bahkan di seluruh pelosok Nusantara dan melestarikan Budaya Nusantara, yang kita sadari budaya kita tergerus. BJN pun membentuk Satgas Pancasila, tidak hanya slogan tetapi mereka akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” papar Dedi dengan penuh antusias.

Pada kesempatan ini BJN hadir membantu masyarakat yang ada di desa Gunung Mulia Kecamatan Tenjolaya yang sulit mendapat air bersih. 20 tahun perjuangan aktivis lingkungan hidup di daerah ini telah dilakukan untuk mendapatkan air bersih namun hingga kini belum juga terealisasi. Maka BJN menjembatani bahkan telah bersurat ke pemerintah, ironi karena di era milenia kini masalah klasik terjadi masih ada masyarakat, di tanah air masih ada daerah yang tidak mendapatkan layanan air bersih,” ucapnya miris.

Bapak Ari Ashari selaku aktivis lingkungan hidup mendapatkan info tidak terpenuhi air bersih atas rakyat di daerah Tenjolaya. Maka ketia ia bertemu dengan BJN mereka menindaklanjuti bahkan mereka menyurati Camat, Bupati dan Gubernur Ridwan Kamil. Hingga saat ini masih menunggu jawaban.

Dedi memaparkan bahwa yang ia dengar dari masyarakat bahwa air di Tenjolaya dijadikan komoditas politis, masyarakat dijanjikan air bersih. Hal tersebut terjadi ketika pergantian Kepala Desa/Lurah bahkan wakil rakyat pun sama mereka hanya mampu menjanjikan air bersih ketika musim kampanye tiba.

Ketua Umum BJN menilai bahwa belum ada sinkronisasi antara Aparat Desa dengan Kecamatan dan Masyarakat. Aparat desa yang duduk di singgasana pemerintahan tidak segera membantu permasalahan masyarakat dalam artian janji tinggal janji masyarakat tetap kesulitan air. Dedi Daryanto memperkirakan 70% masyarakat di Tenjolaya tidak mendapat layanan air bersih.

Harapan Ketua Umum BJN, “Semoga kami dapat membantu masyarakat Desa Gunung Mulia Kecamatan Tenjolaya guna mendapatkan air bersih,” tuturnya.

Lanjut Dedi mengatakan, “Aparat pemerintah dari baik dari Lurah, Camat, Bupati, Gubernur bahkan Bapak Presiden Jokowi. Program pemerintah saat ini sudah bagus tetapi disadari atau tidak disadari belum sampai ke pelosok-pelosok. Maka ini harus ini menjadi perhatian kita semua. Program bagus di atas tetapi di pelosok belum semua tersentuh, ini berarti tidak dinikmati semua masyarakat, keadilan sosial belum terpenuhi,” tegasnya.

“Semoga didengar aparat pemerintah khsusus Presiden Jokowi, kami relawan anda mendukung anda tetapi tolong perhatikan masyarakat yang termarginalkan dan membutuhkan air bersih di Gunung Mulia ini,” ungkapnya lagi.

Ketua Umum Dedi Daryanto akhirnya menugaskan kepada Nurzaihan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi DPP BJN untuk berkomunikasi dengan Kepala Desa Gunung Mulia Abdul Kohar.

Setelah melalui diskusi antara Kepala Desa Gunung Mulia Abdul Kohar dengan Nurzaihan yang didampingi Wakil Sekretaris Jenderal DPP BJN Sumantiyo, Ketua DPD BJN Jawa barat Sutrisno akhirnya terjadi kesepakatan setelah beberapa waktu lamanya belum berhasil terjalin komunikasi.

“Saya akan merealisasikan air bersih masuk ke wilayah Desa Gunung Mulia Kecamatan Tenjolaya, jika anggaran turun yang sudah saya ajukan di tahun 2021 ini,” ungkap Kepala Desa Abdul Kohar pada Minggu (14/03/2021) di dekat lokasi pemancingan favoritnya.

Ucapan Kepala Desa Abdul Kohar itu bagai oase yang akan menyegarkan kekeringan. Semoga niat baik dari BJN dan Lurah Tenjolaya segera mendapat realisasi dan masyarakat mendapatkan akses layanan air bersih yang sudah lama diimpi-impikan. Semoga ! (*/Johan/Maya)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *