Kisah Masjid Merah Panjunan di Cirebon

Cirebon, Perpek Media – Masjid yang sudah berumur sekitar 524 tahun, awalnya tahun 1480 merupakan sebuah surau yang dibangun oleh P. Panjunan (Syarif Abdurrahman), dahulu ukurannya 150 m2. Surau tersebut dibangun 18 tahun sebelum pembangunan Masjid Sang Cipta Rasa.

Dengan demikian, surau ini merupakan tempat ibadat umat Islam kedua di Cirebon, setelah Tajug Pejlagrahan di Kampung Sitimulya. Dikenal dengan nama itu karena dinding masjid ini dibangun dari susunan bata merah ekspose, sementara nama Panjunan menunjuk pada nama kampung dimana masjid ini berada.

Menurut laman Cagar Budaya Kemdikbud, pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, surau ini kerap digunakan untuk pengajian dan musyawarah Wali Sanga. Ketika Kesultanan Cirebon diperintah oleh Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati), pada sekitar tahun 1549, halaman masjid dipagar dengan kuta kosod.

Pada pintu masuk dibangun sepasang candi bentar dan pintu panel jati berukir. Sekitar tahun 1978 masyarakat setempat membangun menara pada halaman depan sebelah selatan, sementara candi bentar dan pintu panel dibongkar.

Keadaan tata ruang masjid yang masih terawat ini bertahan hingga sekarang, kecuali penggantian atap sirap oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat pada tahun 2001-2002.

Pembangunan Masjid Merah Panjunan berkaitan dengan migrasi keturunan Arab ke Cirebon pada sekitar abad ke-15. Dalam Babad Cirebon (Suleman Sulendraningrat, 1984) dikisahkan, bahwa Syarif Abdurakhman dan ketiga adiknya diperintah ayahnya (Sultan Bagdad) untuk bermigrasi ke Pulau Jawa. Mereka adalah Syarif Abdurachim, Syarif Kafi dan Syarifah Bagdad. Daerah tujuan mereka adalah Cirebon.

Di Cirebon mereka berguru pada Syekh Nurjati di Pesambangan, Gunung Jati. Oleh Syekh Nurjati mereka diperkenalkan kepada Pangeran Cakrabuwana (Kuwu Cerbon). Pangeran Cakrabuwana menerima mereka dengan baik, dan menyuruh Syarif Abdurakhman untuk membangun pemukiman yang sekarang dikenal dengan nama Panjunan, sedangkan Syarif Abdurakhim membangun pemukiman yang sekarang dikenal dengan nama Kejaksan.

Syarif Abdurakhman dikenal dengan nama Pangeran Panjunan, sementara Syarif Abdurakhim dikenal juga dengan nama Pangeran Kejaksan.

Selain melakukan syiar Islam, di daerah pemukiman baru ini, Syarif Abdurakhman juga mengembangkan pembuatan peralatan rumah tangga dari tanah liat atau gerabah atau anjun.

Pada masa Kesultanan Cirebon, daerah ini merupakan pusat pembuatan gerabah. Oleh karena itu, daerah ini disebut Panjunan. ***

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *