Yaya Yudiman : Hak Hidup Sehat Warga Rusun Marunda Harus Dilindungi

Jakarta, Perpek Media – Warga rumah susun (Rusun) Marunda yang terdampak langsung polusi debu batu bara dari PT Karya Citra Nusantara (KCN) Marunda bertanya, masih adakah rasa peduli kemanusiaan pemerintah yang ada di wilayah Jakarta Utara dan pihak perusahaan kepada kami masyarakat kecil ?. Hak hidup sehat kami sebagai warga DKI Jakarta tolong dilindungi dan dipulihkan.

Kami sudah bertahun tahun menderita atau menerima pil pahit akibat polusi debu yang disebabkan dari aktivitas bongkar muat batu bara di Pelabuhan KCN Marunda. Berbagai penyakit seperti ISPA, gatal-gatal dan penyakit mata serius selama bertahun tahun telah menggerogoti hak hidup sehat bagi sejumlah warga Rusun Marunda.

Demikian ungkapan kesedihan sejumlah warga seperti disampaikan Yaya Yudiman, warga Cluster B, RT 005 yang juga selaku Ketua LMK RW 011 Rusun Marunda. Warga menyambut baik kedatangan Kasudin Lingkungan Hidup (LH) Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara, Achmad Hariadi bersama jajaran, melihat dan mendengar langsung keluhan warga terdampak langsung polusi debu batu bara KCN pada Minggu (12/12/21) kemarin.

Kasudin LH A.Hariadi berjanji kepada warga rusun secepatnya membentuk tim LH yang melibatkan unsur masyarakat dalam dialog dengan pihak PT KCN. Kami berharap secepatnya direalisasikan pembentukan tim itu, sebab sampai saat ini belum ada kabar apapun dari Sudin LH Jakarta Utara,” kata Yaya ,Yudiman kepada tim awak media,Kamis (23/12/21) malam.

Yaya menambahkan, dia bersama pengurus RT dan Ketua RW 011 masih menunggu dan menghormati inisiatif dan upaya yang dilakukan oleh Dompas, Ketua RW 010.

“Kami ikutin saja prosesnya seperti apa dan hasilnya bagaimana. Kalau sampai saat nanti hasilnya tidak memenuhi harapan warga, baru RW 011 akan mengambil inisiatif yang berbeda. Saat ini RW 011 mengikutin aja sebagai bentuk penghormatan atas inisiatif dan upaya yang dilakukan pak Dompas,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Didi Swandi tokoh masyarakat RW 010. Hasil pertemuan dengan warga yaitu membentuk tim LH yang melibatkan unsur masyarakat dalam dialog ke PT KCN, mencari solusi tepat dan cepat sehingga masalah debu batubara akibat aktivitas PT KCN segera selesai.

“Saya berharap pihak perusahaan membuka dialog dengan warga bersama tim LH Jakarta Utara dengan solusi tepat dan tidak merugikan masyarakat Rusun Marunda,” harap Didi.

Sementara itu Muhammad Ts, staff Puskesmas Cilincing bagian Sanitarian atau Kesehatan Lingkungan mengatakan, berdasarkan laporan yang mereka terima warga Rusun Marunda yang terkena penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) meningkat. Selain ISPA, penyakit serius lainya gatal-gatal kulit dan penyakit mata, karena memang debu batubara itu panas atau gatal.

Dari sejumlah pasien tersebut sebagian di rujuk ke rumah sakit untuk penanganan medis lebih lengkap dan ada yang dirujuk ke RSCM Cipto Mangunkusumo. ISPA itu adalah seperti batuk dan pilek menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia.

Pengakuan warga sebelumnya, debu batu bara beterbangan hingga ke rumah-rumah warga, dan nampak jelas menempel di dinding dan lantai rumah. Dan debu batu bara tersebut oleh warga dituding sebagai penyebab penyakit gatal-gatal, pernapasan hingga penyakit mata yang mereka alami.

Candra Agani, warga Cluster A10 Arwana Rusun Marunda mengakui bahwa dia sudah dua bulan ini mengalami penyakit gatal-gatal kulit dan membuatnya tiap malam kurang tidur. Sebelum penyakit gatal yang dialaminya dua bulan belakangan, dia mengatakan belum pernah menderita penyakit gatal-gatal kulit, apalagi sampai terlihat muncul warna agak kemerah-merahan dan hitan lebam dan sangat gatal.

“Sudah dua bulan ini saya kurang tidur malam dan sangat menderita akibat sakit gatal-gatal ini,” jelas Candra Agani yang juga selaku Bendahara RT 003 RW 010 Rusun Marunda.

Selain Candra, tiga warga Rusun Marunda yang mengalami sakit serius, yakni Agus (60), warga RT 015 RW 007 Blok D1 Rusun Marunda, sampai sekarang masih menjalani perawatan mata di rumah sakit. Korban lainnya bocah bernama Raihan Ubaidillah (9), putra M Yusuf di Blok A1, RT 010 RW 010 Rusun Marunda.

Keluarga Raihan dengan sabar menunggu satu tahun untuk mendapatkan donor mata.

Kendati sudah dua tahun lalu menjalani operasi mata, namun sampai sekarang Raihan masih harus diobati matanya tiga kali sehari dengan obat tetes mata. Penyakit gatal-gatal di sekitar pergelangan kaki juga dialami Ahmad, warga RT 007 RW 010, yang juga sebagai petugas teknisi Rusun Marunda.

“Mudah-mudahan dengan pertemuan bersama Kasudin LH Jakarta Utara, ada dialog terbuka antara warga bersama tim LH dengan pihak KCN.

Warga selama ini harus menerima pil pahit, belum lagi kerusakan biota laut akibat aktivitas bongkar muat material batu bara di pelabuhan KCN Marunda itu,” ungkap Candra. (*/Maya)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *