Retno Purwaningtias : Panggung P3langi di Langit Sekuler – Demokrasi

OPINI

“Tidak boleh bagi seorang laki-laki melihat aurat laki-laki dan wanita melihat aurat wanita. Dan tidak boleh seorang laki-laki dengan laki-laki dalam satu selimut dan wanita dengan wanita lainnya dalam satu selimut.” (H.R. Muslim).

Oleh : Retno Purwaningtias, S.IP

Medan, Perpek Media – Kampanye sistematis para pengikut dan pembela L687 makin masif dilakukan. Narasi eksistensi L687 disebarkan melalui berbagai forum dan media, (talkshow di radio dan televisi). Seperti yang sedang menjadi sorotan warganet, seorang konten podcaster tanah air, Deddy Corbuzier, mengundang pasangan gay, Ragil Mahardika dan Fred, di acara ‘Deddy Corbuzier Podcast’ di YouTube.

Deddy Corbuzier (DC) mengundang keduanya dengan judul konten ‘Tutorial Jadi G4y di Indo!! Pindah ke Jerman Ragil dan Fred’. DC terus dibanjiri kecaman karena podcast-nya yang sama sekali tidak mengedukasi, bahkan terkesan mempromosikan. Mereka menilai jika judul yang DC sematkan seolah-olah mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadi penyuka sesama jenis. (liputan6.com, 9/5/2022). Na’uzubillah!

Belakangan ini kaum pelangi memang makin berani menunjukkan eksistensinya. Di beberapa media sosial, mereka bahkan berani buka-bukaan mengenai orientasi seksual yang menyimpang ini. Tidak puas bertingkah di media sosial, mereka juga berani mengutak-atik dalil dari Al-Quran untuk mencari pembenaran atas perilaku sakitnya. Anehnya, ada saja yang memberi panggung, seperti di podcast ini contohnya.

Kampanye masif ini sangat mungkin menjadi racun yang sangat berbahaya bagi pikiran, sikap, atau perilaku generasi muda. Meski hanya diundang sebagai tamu, nyatanya mereka menjadi tamu spesial yang diberikan panggung untuk bercerita seputar kehidupan mereka sebagai kaum p3langi dengan bebas.

Mereka terus-menerus dibombardir ide-ide dan pemikiran yang rusak. Awalnya mulai mempertanyakan dan merasa ragu, apakah L867 memang salah? Lalu keraguan ini dapat berkembang menjadi keyakinan bahwa L867 tidak salah, sesuatu yang normal-normal saja, bawaan yang “given”. Keyakinan ini kemudian berujung pada perasaan simpati dan bahkan pembelaan baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Ditambah lagi banyak sekali hari ini konten-konten pria yang berperan menjadi wanita, memakai kerudung, atau sebaliknya yang menjadi tontonan lucu dan menghibur. Tentu saja masyarakat tidak sedikit yang menikmati tontonan tersebut, sehingga lama kelamaan malah masyarakat akan terbiasa dengan keberadaan mereka yang menyimpang dari fitrah. Kalau begini terus, virus kaum p3langi akan begitu mudah menyusup dalam pergaulan anak remaja.

Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan sejak awal memang sudah menafikkan urusan agama dalam seluruh sendi-sendi kehidupan. Memunculkan anggapan bahwa orientasi seksual adalah ranah privat. Padahal masalah L867 saat ini bukan lagi sekadar persoalan individu, melainkan masalah yang terorganisasi, terstruktur, dibela, dan diperjuangkan eksistensinya secara sistematis. Jika tidak dibendung, maka eksistensi L867 akan makin massif. Jika makin masif, L687 akan memicu munculnya masyarakat hedonis yang amoral, permisif, dan sakit secara fisik maupun psikologis. Seperti inilah bila kaum p3langi dibiarkan tumbuh di bawah langit sekuler-demokrasi.

Kalau dibiarkan, kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Kita tidak bisa mencukupkan pembahasan dampak perilaku menyimpang ini bagi masa depan generasi, tetapi juga masa depan bangsa dan peradaban manusia. Apa jadinya jika manusia hidup menyalahi fitrah? Bagaimana bisa bangsa ini maju sementara di saat yang sama perilaku generasinya menunjukkan kemerosotan peradaban?

Komunitas L687 kian leluasa unjuk gigi karena sistem hari ini sebenarnya tidak memiliki ketegasan hukum. Tidak ada Undang-undang yang secara tegas melarang L687 kecuali UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Undang-undang ini mengatur bahwa perkawinan yang sah dan diakui adalah pasangan heteroseksual.

Hukum ini tentu saja tidak kuat untuk menindak pelaku L687. Justru UU ini memberikan wilayah abu-abu dan menunjukkan diamnya negara pada pelaku L687. Inilah sebab mengapa komunitas L687 tidak pernah lelah untuk mendapatkan pengakuan.

Lantas, bagaimana sih perspektif Islam mengenai hal ini?

Apa yang terjadi dalam sistem sekularisme ini tentu berbeda dengan hukum dalam sistem Islam. Ada langkah preventif, juga ada sanksinya. Langkah preventifnya antara lain melalui pola pengasuhan yang berbasis fitrah. Anak laki-laki dididik untuk menjadi pemimpin rumah tangga, sedangkan anak perempuan dididik untuk menjadi Ibu. Jadi, orang tua wajib mengontrol kecenderungan anak-anaknya. Di sisi lain, kurikulum pendidikan berperan dalam menjaga fitrah sang anak.

Islam mengatur sistem pergaulan, Islam juga menetapkan syariat yang menjaga interaksi, baik antara laki-laki dan perempuan maupun interaksi sesama jenis. Islam menjelaskan batasan aurat bukan hanya antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga batasan aurat sesama jenis. Islam juga melarang untuk tidur dalam selimut yang sama. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh bagi seorang laki-laki melihat aurat laki-laki dan wanita melihat aurat wanita. Dan tidak boleh seorang laki-laki dengan laki-laki dalam satu selimut dan wanita dengan wanita lainnya dalam satu selimut.” (h.r. Muslim).

Selain itu, Islam juga menetapkan bahwa hukuman bagi pelaku homoseksual adalah hukuman mati. Demikian juga pelaku lesbi dan perilaku menyimpang seksual lainnya, jenis sanksinya diserahkan pada Khalifah. Rasulullah bersabda, “Lesbi (sihaaq) di antara wanita adalah (bagaikan) zina di antara mereka.” (h.r. Thabrani).

Sanksi wajib dilaksanakan oleh negara karena sanksi diberikan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi fitrah generasi, ini juga akan memberi efek jera agar tidak ada lagi yang melakukan perbuatan kaum sodom. Maka, hanya dengan sistem Islamlah manusia akan berperilaku sesuai fitrahnya. Hanya dengan sistem Islam pemikiran dan perilaku kaum menyimpang tersebut akan diberangus hingga ke akar- akarnya.

Wallahualam bissawab.

*Penulis adalah (Pegiat Literasi)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.